Pelestarian Tradisi Mudik Lebaran

Oleh: Prof Dr H Duski Ibrahim MAg , Guru besar UIN Raden Fatah Palembang -FOTO: IST-
SUMATERAEKSPRES.ID - ISTILAH mudik berasal dari bahasa Jawa, yang merupakan singkatan dari ungkapan “mulih-dilik”, artinya pulang sebentar, yang dalam hal ini pulang sebentar ke kampung halaman.
Secara historis, dalam konteks mudik Lebaran, istilah tersebut mulai muncul di Indonesia pada masa kolonial Belanda. Bermula dari kebiasan para pejabat Kerajaan Mataram Islam pulang untuk merayakan Lebaran Idulfitri.
BACA JUGA:Manfaat Zakat bagi Umat
BACA JUGA:Zakat Simbol Kepedulian Sosial
Seiring perjalanan waktu, maka pada tahun 1970-an, tradisi mudik menjadi sangat tren di Indonesia, hingga saat ini. Tradisi mudik Lebaran menjadi fenomena besar di Indonesia karena melibatkan berbagai pihak, baik swasta maupun pemerintah.
Dalam kajian Islam, dengan pendekatan ilmu ushul al-fiqh, suatu tradisi dikenal dengan ‘adah atau ‘urf. ‘Urf dapat dibagi menjadi dua kategori: Satu disebut ‘urf shahih, yaitu suatu tradisi atau kebiasaan yang baik, tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Dua, disebut ‘urf fasid, yaitu suatu tradisi atau kebiasan yang jelek, bertenatangan dengan ajaran Islam. Dalam rumus maqashid syari’ah, segala sesuatu itu ada maslahat dan mafsadatnya, tidak terkecuali tradisi mudik Lebaran.
Kalau maslahatannya lebih banyak, maka suatu tradisi boleh dilaksanakan dan dilestarikan, tetapi kalau mafsadatnya lebih banyak maka sebaiknya dihentikan.
Apa tujuan mudik Lebaran? Banyak tujuan mudik Lebaran yang dapat diungkapkan, antara lain, adalah: Pertama, aspek ekonomi. Dari aspek ini, mudik Lebaran memberikan dampak positif bagi perputaran ekonomi msyarakat.
Berbagai aktivitas mudik Lebaran berdampak signifikan terhadap peningkatan pergerakan ekonomi masyarakat, terutama masyarakat kecil.
Umpamanya, pendapatan para pedagang kecil di pingir-pinggir jalan cenderung meniggkat, karena dagangan yang ditawarkannya relatif laku lebih banyak dibanding bukan musim mudik Lebaran.
Kedua, menjalin dan melestarikan hubungan kekeluargaan. Dari aspek ini, momen mudik Lebaran menjadi kesempatan untuk membangun kembali dan melanjutkan hubungan baik dengan keluarga dan kerabat.
Dengan ungkapan lain, momen mudik Lebaran ini dapat dijadikan sesempatan emas untuk menghargai keberadaan keluarga, menghargai keberadaan leluhur yang beberapa lama ditinggalkan ke perantauan.
Dalam momen mudik Lebaran ini juga dijadikan kesempatan untuk memperkuat rasa persatuan, kebersamaan dan kebahagiaan, sembari bermaaf-maafan secara langsung.