Harga Beras 28 Provinsi Naik, Sumsel Masih di Atas HET, Belum Masa Panen- Faktor Cuaca

BANSOS: Warga mengambil bantuan pangan program cadangan beras pemerintah (CBP) di kantor pos Plaju, Senin (5/2).-foto : budiman/sumeks-

Adanya kenaikan harga beras ini diungkap Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi. Menurutnya, meski ada pergerakan inflasi beras, tapi harga masih cukup terjaga. "Inflasi Indonesia itu salah satu yang terbaik di dunia. Namun, memang indeks komponen volatile kita cukup tinggi. Tapi itu cukup wajar karena pangan kan ada komponen biaya seperti pupuk, sewa lahan, dan lainnya,” bebernya.

Dia menyebut upaya yang dilakukan saat ini adalah mengadministrasikan yang volatile. ”Kalau dahulu dilepas saja volatile itu, sekarang kita coba kontrol agar inflasi tidak lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi,” imbuh Arief.

Data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi beras pada Januari 2024 mencapai 0,64 persen dengan andil terhadap inflasi nasional sebesar 0,03 persen. Angka itu naik jika dibandingkan inflasi beras pada Desember 2023 yang mencapai 0,48 persen.

BACA JUGA:567.306 Keluarga Miskin Dibantu Beras, Sebulan 10 kg, Penerima Bantuan di Sumsel Bertambah 16.962 KPM

BACA JUGA:Profil Imam Muda Masjidil Haram yang Berparas Menawan, Ternyata Berasal dari Pulau Penghasil Garam Ini

Kendati demikian, menurut Arief, tingkat inflasi beras dibandingkan Januari tahun lalu mengalami depresiasi yang cukup signifikan. Kala itu mencapai 2,34 persen. ”Setelah bisa mengendalikan inflasi beras yang volatile (bergejolak), selanjutnya harga beras akan kita upayakan berada di keseimbangan yang wajar dan baik,” ungkap dia.

Pemerintah terus menjaga harga di semua tingkatan. Mulai petani, penggiling padi, distributor, sampai konsumen. Bahkan, NTPP (nilai tukar petani tanaman pangan) semakin tinggi pada Januari. ”Angkanya di 116,16. Bandingkan dengan NTPP Januari tahun lalu yang mencapai 103,82,” jelas Arief.

Sementara, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS Pusat, Amalia A Widyasanti sebelumnya menyatakan, salah satu pemicu kenaikan berbagai harga komoditas, termasuk beras adalah faktor cuaca. "Pendorong kenaikan harga beras, antara lain, kurangnya pasokan di beberapa wilayah, terutama akibat faktor cuaca dan rusaknya beberapa akses jalan dan hambatan distribusi komoditas pangan,” kata dia.

Menurutnya, kenaikan harga beras terjadi pada 28 provinsi. Di antaranya di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Hanya turun di 10 provinsi lainnya. Tingginya harga beras dipengaruhi suplai yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan permintaan yang tinggi. 

Selain itu, lanjut Amalia, harga beras naik karena terjadi kenaikan harga di pasar global. Pemicunya adalah sejumlah negara mengambil kebijakan untuk menahan ekspor berasnya. ”Kalau di dalam negeri, panen beras yang relatif lebih rendah karena faktor cuaca dan dampak fenomena El Nino berkepanjangan,” tukas dia. (*/bis/chy)

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan