Transaksi Belanja dan Berwisata Berlipat Ganda
BELANJA : Pengunjung Megaria, Dika, dan Bandung Store terlihat padat memilih pakaian. Di momen Lebaran ini, transaksi pusat perbelanjaan meningkat pesat hingga dua kali lipat hari biasa. FOTO : EVAN ZUMARLI/SUMEKS--
PALEMBANG, SUMATERAEKSPRES.ID – Perputaran uang pada momen libur Idul Fitri 2025 diprediksi mencapai Rp137,9 triliun. Tingginya transaksi ini karena masyarakat memenuhi kebutuhan Lebaran baik sebelum, saat Idul Fitri, atau setelahnya, baik itu makan minum, wisata, dan lain sebagainya. Tak heran saat ini pun aktivitas masyarakat ke pasar tetap tinggi, terutama pasar modern atau mall di momen Lebaran.
Naiknya jumlah pengunjung, tentu saja meningkatkan jumlah transaksi pembelanjaan yang ada. Pengamat Ekonomi Sumatera Selatan (Sumsel) sekaligus Dosen Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya (Unsri), Dr Suhel SE MSi mengatakan berbagai sektor ekonomi mengalami lonjakan transaksi yang signifikan.
BACA JUGA: Mau THR Awet? Begini Cara Cerdas Mengatur Belanja Lebaran
BACA JUGA:11 Aplikasi Belanja Online Terbaik dan Paling Populer dengan Diskon Gila-Gilaan
Salah satu sektor yang paling merasakan dampak terbesar, yaitu perdagangan, terutama di pasar tradisional dan pusat perbelanjaan modern seperti mall,” ujarnya, kemarin. Diakuinya, peningkatan transaksi dipicu naiknya permintaan masyarakat terhadap berbagai kebutuhan Lebaran, mulai dari bahan makanan, pakaian, perlengkapan rumah tangga, juga liburan atau wisata.
“Lonjakan aktivitas di pasar tradisional menjadi salah satu tujuan utama masyarakat berbelanja menjelang Idul Fitri. Harga yang relatif lebih murah, variasi produk yang lengkap serta kesempatan menawar harga membuat pasar tradisional tetap diminati meskipun persaingan dengan retail modern semakin ketat," terangnya.
Komoditas paling banyak dicari di pasar tradisional antara lain bahan makanan seperti daging, ayam, ikan, sayur-mayur, dan bumbu dapur. "Ditambah harga bahan pokok sering kali meningkat karena tingginya permintaan," ungkapnya. Kemudian kue kering dan jajanan Lebaran yang disajikan kepada tamu saat Lebaran. Pakaian muslim dan aksesoris baju koko, gamis, mukena, peci, serta aksesoris seperti sajadah dan tasbih laris manis.
"Peningkatan pengunjung di mall sebelum dan pada saat Lebaran masih terus terjadi. Faktor kenyamanan berbelanja di tempat yang lebih bersih, ber-AC, serta adanya diskon besar-besaran menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat," sambungnya. Beberapa produk yang menjadi incaran di mall, antara lain, busana Lebaran, toko pakaian, dan department store yang menawarkan diskon besar-besaran untuk busana pria, wanita, dan anak-anak.
Lalu peralatan elektronik dan gadget, tradisi memberikan hadiah kepada keluarga atau membeli barang elektronik baru seperti handphone dan peralatan rumah tangga. "Makanan dan minuman supermarket di dalam mall juga mengalami peningkatan transaksi, terutama produk kebutuhan pokok dan parsel Lebaran," sambungnya.
Sementara di hari H dan pasca Lebaran, banyak orang masih tetap belanja ke mall, makan minum di restoran, bermain wahana hiburan, nonton bioskop, dan sebagainya terutama usai silaturahmi.
Diakuinya, faktor yang mendorong peningkatan transaksi seperti adanya THR (Tunjangan Hari Raya) menjadi uang tambahan masyarakat berbelanja kebutuhan Lebaran." Masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan membeli baju baru, memberikan hadiah, serta menyajikan makanan khas saat Lebaran," sambungnya.
Banyak toko menawarkan potongan harga dan paket bundling untuk menarik lebih banyak pembeli. Kemudahan berbelanja online dan offline, perpaduan antara belanja langsung di pasar atau mall dengan kemudahan bertransaksi secara online semakin meningkatkan volume perdagangan.
“Peningkatan jumlah transaksi di pasar tradisional dan mall memiliki dampak positif bagi perekonomian, antara lain meningkatkan omzet pedagang lonjakan transaksi meningkatkan omzet pedagang, baik di pasar tradisional maupun mall,” tuturnya.
BACA JUGA:Rahasia Mendapatkan Voucher Belanja Lebaran di Shopee, Dijamin Hemat!
