Update 25 Maret 2025, Rupiah Tertekan! Akankah Dolar AS Terus Mendominasi?

Ilustrasi Dolar AS-Foto: Freepik-
SUMATERAEKSPRES.ID - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan rencananya untuk mengumumkan tarif baru terhadap impor otomotif dalam beberapa hari mendatang.
Sementara itu, sektor manufaktur AS mengalami kontraksi akibat lonjakan biaya material yang berkaitan dengan kebijakan tarif. Sektor jasa juga menunjukkan tanda-tanda pelemahan.
Presiden The Fed Atlanta, Raphael Bostic, menilai hanya akan ada satu kali pemotongan suku bunga sepanjang tahun ini.
Ia menambahkan bahwa kenaikan tarif berpotensi menghambat laju disinflasi, memperumit kondisi ekonomi lebih lanjut.
BACA JUGA:Sejarah Panjang Kepemimpinan BRI: Dari Zaman Kolonial hingga Transformasi Digital Masa Kini
BACA JUGA:Hery Gunardi Nahkoda Baru BRI: Perkuat UMKM, Digitalisasi, dan Transformasi Perbankan Nasional
Ekonomi Global Bereaksi
Di Eropa, sektor swasta Jerman mencatat pertumbuhan tertinggi dalam satu dekade terakhir. Harapan besar bertumpu pada peningkatan pengeluaran pemerintah guna mengimbangi dampak tarif AS.
Sementara itu, anggota dewan European Central Bank (ECB), Piero Cipollone, menyatakan bahwa peluang pemangkasan suku bunga kembali meningkat. ECB telah memangkas suku bunga enam kali sejak Juni, tetapi masih belum memberikan sinyal jelas terkait kebijakan selanjutnya.
Pasar keuangan memproyeksikan peluang pemangkasan sebesar 60% pada April, dengan kepastian pemangkasan lebih lanjut di Juni.
BACA JUGA:Update Cuaca Palembang Selasa 25 Maret: Berawan dan Gerimis Ringan Pagi hingga Sore, Malam Mendung
BACA JUGA:Bank BSI Buka Pinjaman Bagi Guru yang Sudah Dapatkan Sertifikat Pendidik, Ini Simulasi Angsurannya
Di Jepang, Gubernur Bank of Japan (BOJ), Kazuo Ueda, menegaskan bahwa bank sentral siap menaikkan suku bunga jika inflasi mencapai target. Namun, langkah tersebut dapat berisiko merugikan kepemilikan obligasi pemerintah.
Aktivitas bisnis Jepang mengalami penurunan untuk pertama kali dalam lima bulan terakhir pada Maret. Inflasi domestik serta permintaan manufaktur yang melemah dari luar negeri menjadi faktor utama. Pelemahan Purchasing Managers' Index (PMI) ini juga mengindikasikan penurunan ekonomi secara lebih luas, diperburuk oleh turunnya pengeluaran swasta.
Pasar Keuangan dan Mata Uang
Di sektor keuangan, Dow Jones Industrial Average (DJIA) naik 597,97 poin (+1,42%), sementara harga minyak mentah (Crude Oil) naik 0,84 poin (+1,23%) menjadi USD 69,19 per barel. Sebaliknya, harga emas (XAU) turun 13,59 poin (-0,45%) menjadi USD 3011,36 per ons.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat pelemahan signifikan sebesar 96,96 poin (-1,55%), menutup perdagangan di level 6.161,22.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperdagangkan di kisaran 16.510-16.575 pada hari sebelumnya dan ditutup di level 16.575-16.580. Hari ini, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang 16.550-16.650 dengan level support di 16.453 dan 16.511, serta resistance di 16.610 dan 16.651.
Strategi harian: Buy pada level 16.550 dengan target 16.650.