Sumatera Ekspres | Baca Koran Sumeks Online | Koran Sumeks Hari ini | SUMATERAEKSPRES.ID - SUMATERAEKSPRES.ID Koran Sumeks Hari ini - Berita Terhangat - Berita Terbaru - Berita Online - Koran Sumatera Ekspres

https://sumateraekspres.bacakoran.co/

Mitsubishi baru

Paradoks PBI JKN: Memutus Harapan, Mengabaikan Kesehatan

Apt Trie Gusti Lingling SFarm Apoteker dan Kord. Humas HISFARMA Sumsel -Foto : Ist-

3. Budaya Hidup Sehat sebagai Infrastruktur Sosial yang Setara

Selama ini, gaya hidup sehat seperti olahraga rutin dan asupan nutrisi seimbang sering kali dianggap sebagai gaya hidup eksklusif milik kelas menengah ke atas yang memiliki waktu luang dan akses finansial. Pandangan ini harus diubah; hidup sehat adalah hak dasar setiap warga negara tanpa memandang status sosial.

BACA JUGA:2026, RSUD Gandus Komitmen Tingkatkan Layanan Kesehatan Dukung Palembang Cerdas

BACA JUGA:Jangan Kaget di Loket RS! Ini Daftar Penyakit dan Operasi yang Tak Ditanggung BPJS Kesehatan

Negara bertanggung jawab menyediakan infrastruktur sosial berupa ruang-ruang publik yang aman dan nyaman untuk berolahraga di setiap pemukiman. Selain itu, edukasi preventif tidak boleh lagi hanya berupa slogan kaku pada spanduk usang di pojok-pojok fasilitas kesehatan. Kita memerlukan narasi persuasif yang mampu menggerakkan kesadaran kolektif masyarakat agar mereka memiliki kedaulatan dan perlindungan mandiri terhadap ancaman penyakit.

4. Kesejahteraan Mental dan Ekonomi sebagai Perisai Imunitas

Kita tidak bisa menutup mata bahwa kemiskinan adalah salah satu "komorbiditas" atau penyakit penyerta yang paling mematikan. Tekanan ekonomi yang menghimpit, ditambah jaminan sosial, seperti drama penonaktifan PBI JKN yang terjadi secara tiba-tiba, menciptakan stres kronis pada masyarakat.

Secara biologis, stres yang berkepanjangan akan meruntuhkan sistem imunitas fisik, membuat rakyat kecil semakin rentan terhadap serangan penyakit. Oleh karena itu, menjamin stabilitas ekonomi dan ketenangan mental warga adalah bagian yang tak terpisahkan dari upaya menyehatkan bangsa. Warga yang tenang secara ekonomi dan mental akan memiliki ketahanan fisik yang jauh lebih kuat.

Pemerintah tidak boleh hanya berperan sebagai "kasir" yang membayar tagihan rumah sakit, tetapi harus hadir sebagai penjaga kualitas hidup warga di hulu.

Langkah Penyelamatan Kepala Daerah: Solusi KTP, Antara Penyelamat Nyawa dan Beban APBD

Di tengah kemelut penonaktifan PBI JKN pusat, ada banyak kepala daerah mengambil langkah cepat dengan meluncurkan program kesehatan berbasis NIK atau yang populer dengan sebutan "Berobat Cukup Bawa KTP". Secara politik dan kemanusiaan, langkah ini adalah oase di tengah padang pasir. Kepala daerah hadir sebagai pahlawan yang memastikan tidak ada warganya yang ditolak di pintu institusi kesehatan  hanya karena urusan administrasi yang berbelit.

Namun, muncul pertanyaan besar di balik program tersebut: Apakah ini solusi jangka panjang yang berkelanjutan (sustainable), atau sekadar "pemadam kebakaran" sementara?

Program "Berobat dengan KTP" sejatinya adalah skema Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) atau integrasi ke dalam sistem UHC (Universal Health Coverage) yang pembiayaannya sepenuhnya ditanggung oleh kas daerah. Artinya, setiap rupiah yang keluar untuk mengobati warga berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Dilema Anggaran: Tarik Ulur Prioritas

Ketergantungan pada APBD untuk menutupi celah di hilir kesehatan membawa tantangan serius bagi pembangunan daerah secara keseluruhan:

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan