Hari Guru: Refleksi Profesi dan Apresiasi
Ramlan Effendi, M.Pd (Kepala SMPN 4 Kikim Selatan Lahat)-FOTO: IST-
Sementara itu, di India, perayaan Hari Guru jatuh pada 5 September, bertepatan dengan hari lahir Dr. Sarvepalli Radhakrishnan, seorang sosok penting yang dihormati sebagai guru besar dan presiden kedua India.
Di Australia, penghormatan terhadap profesi guru dilakukan pada Jumat terakhir Oktober. Di Amerika Serikat, peringatan dilakukan dalam Teacher Appreciation Week, satu minggu khusus apresiasi terhadap guru.
Bermacam-macamcara dilakukan guru dan masyarakat dalam merayakan hari guru. mulai dengan beragam kegiatan seremonial seperti upacara bendera, ziarah ke makam pahlawan, hingga berbagai lomba antar guru sebagai bentuk apresiasi.
Namun, di balik berbagai rangkaian kegiatan yang meramaikan peringatan Hari Guru, muncul sebuah pertanyaan besar yang patut direnungkan bersama: sejauh mana kondisi nyata para guru di Indonesia saat ini? Apakah mereka telah menikmati tingkat kesejahteraan yang memadai, memiliki ruang kerja yang mendukung profesionalisme, serta bernaung dalam sistem pendidikan yang benar-benar ideal? Pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika kita menyadari bahwa guru bukan hanya pelaksana kurikulum, tetapi juga sosok yang membentuk karakter siswa.
Selain kesejahteraan, ada persoalan mengenai prestise profesi guru. Bagaimana penghargaan publik terhadap profesi ini? Apakah dianggap bergengsi, atau justru dipandang kurang menjanjikan dari sisi ekonomi dan karier?
Pertanyaan ini menjadi relevan, mengingat peran guru tidak hanya sebagai pengajar di kelas, tetapi juga sebagai pembimbing moral, pendidik karakter
Seluruh pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa peringatan Hari Guru semestinya tidak hanya menjadi ajang seremonial semata. Lebih dari itu, momen ini perlu menjadi ruang refleksi bersama untuk menilai kembali posisi, martabat, dan kesejahteraan para pendidik.
Jika kita merujuk pada pandangan Ornstein, Levine, dan Gutek dalam buku Foundations of Education, profesi sejati memiliki sejumlah karakteristik khusus yang membedakannya dari sekadar pekerjaan.
Pertama, seorang profesional harus memiliki dedikasi kepentingan publiktinggi untuk melayanidan berkomitmen terhadap pekerjaannya sepanjang hayat.
Kedua, ia dituntut untuk menguasai pengetahuan mendalam dan keterampilan khusus yang melampaui kemampuan rata-rata masyarakat pada umumnya.
Ketiga, profesi tersebut umumnya ditempuh melalui masa pelatihan intensif dalam jangka waktu yang panjang, sehingga seseorang memperoleh kompetensi yang benar-benar matang.
Selain itu, profesi yang mapan biasanya berada di bawah pengawasan standar lisensi atau persyaratan tertentu yang mengatur kelayakan seseorang untuk menjalankan tugasnya.
Para profesional juga diberikan otonomi dalam membuat keputusan terkait ruang lingkup pekerjaannya, sehingga mereka dapat bertindak secara mandiri dan bertanggung jawab.
Lebih jauh lagi, profesional sejati menerima dan menjalankan aturan, standar layanan, serta kode perilakutertentu yang memastikan kualitas pelayanan tetap terjaga.
Mereka juga memiliki organisasi profesi yang mengatur dirinya sendiri, dilengkapi dengan asosiasi profesional atau kelompok elit yang memberi penghargaan atas pencapaian anggotanya.
