Sumatera Ekspres | Baca Koran Sumeks Online | Koran Sumeks Hari ini | SUMATERAEKSPRES.ID - SUMATERAEKSPRES.ID Koran Sumeks Hari ini - Berita Terhangat - Berita Terbaru - Berita Online - Koran Sumatera Ekspres

https://sumateraekspres.bacakoran.co/

Mitsubishi baru

Petani Beralih ke Sawit dan Kopi, Harga Dinilai Lebih Menjanjikan

--

PALEMBANG, SUMATERAEKSPRES.ID - Sejak beberapa tahun belakangan, masyarakat petani karet di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) beralih menanam komoditi sawit dan kopi. Hal ini menyebabkan luasan kebun karet pun terus berkurang. 

Kepala Bidang Pengelolaan dan Pemasaran Hasil Perkebunan (P2HP) Dinas Perkebunan Provinsi Sumsel, Mukpakanisin, mengatakan luasan perkebunan karet Sumsel semula 1,2 juta hektare dan kini menyusut menjadi 800-900 ribu hektare. 

"Banyak faktor yang membuat petani karet Sumsel beralih ke komoditi lain, di antaranya proses peremajaan pohon karet atau replanting yang sulit, serta penghasilan yang didapat tidak terlalu besar seperti sebelumnya," terangnya, kemarin. 

Ia menjelaskan, proses replanting yaitu pohon karet yang sudah tua dicabut hingga ke akarnya agar tidak menimbulkan penyakit jamur yang menyerang tanaman baru. 

"Proses ini memerlukan biaya yang mahal, sementara cara tradisional seperti pembakaran lahan dilarang dan kena sanksi pidana. Jika proses ini tidak dilakukan, ketika umur 7 tahun tanaman karet akan mati,” ujarnya. Dari sisi harga karet meski relatif stabil, namun dibandingkan komoditi sawit memiliki nilai jual lebih tinggi. 

BACA JUGA:Perkuat Akses Minyak Sawit ke Eropa, Menkop Dorong Hilirisasi Sawit Berbasis Koperasi

BACA JUGA:Buron 2,5 Tahun Dikira Tak Lagi Dicari, DPO Pencuri Sawit PT WKK Ini Diringkus Polisi

"Contoh saja petani yang memiliki perkebunan karet seluas 10 hektare, rata-rata penghasilan bersihnya Rp9 juta per bulan. Tetapi jika punya kebun sawit, pendapatannya bisa mencapai Rp20 juta per bulan," jelasnya. Selain ke sawit, fenomena peralihan komoditas karet  juga ke tanaman kopi, seperti terjadi di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur.

"Petani yang memiliki perkebunan karet mulai menanami area sekitar pohon karet dengan tanaman kopi yang tren harganya belakangan relatif tinggi," ujarnya. Pada dasarnya, lanjut dia, petani tidak mungkin loyalitas dengan satu komoditas kecuali kondisi geografis tidak memungkinkan. "Intinya petani akan menanam yang menguntungkan bagi mereka,” katanya. 

Meski begitu, harapan terhadap keberadaan karet Sumsel masih ada. "Sebab para petani akan tetap menanam selama kebutuhan pasar masih tersedia," tukasnya. 

Hendri pemilik kebun karet di Kabupaten Musi Banyuasin mengungkapkan peralihan dari karet ke sawit sudah ia lakukan sejak 5 tahun lalu. "Sawit ini waktu tanam sampai panen tidak terlalu lama seperti karet. Ini sawit yang saya tanam kurang lebih 2 tahun dan sudah menghasilkan. Memang hasil banyak tergantung luasan dan bibit yang kita tanam," katanya. 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan