Bakal Ada Digital Sharia Banking, Hasil Merger BTN Syariah dan BVIS
PERNYATAAN: Dirut BTN Nixon LP Napitupulu (dua dari kiri) usai Penandatanganan Akta Jual Beli dan Pengambilalihan Saham BVIS oleh BTN, Kamis (5/6). -FOTO: BTN for sumeks-
JAKARTA, SUMATERAEKSPRES.ID - Melalui corporate plan yang telah disiapkan, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menyiapkan BTN Syariah menjadi bank umum syariah (BUS). Bank ini fokus pada digital selama dua sampai tiga tahun ke depan. Meski core business masih di sektor perumahan.
BTN Syariah dan PT Bank Victoria Syariah (BVIS) akan saling mengintegrasikan teknologi informasi, sumber daya manusia (SDM), model bisnis, dan tata kelola. ''Berdasar road map menjadi bank syariah yang progresif dan mengedepankan digital sharia banking. Dengan basis digital yang kuat, harapannya akan lebih menguasai area consumer banking dan retail banking,'' ujar Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu.
Dikatakan, business process akan digital, bahkan lebih digital dibanding induknya. ''Kami akan hire banyak orang IT (information technology) untuk menjadikan bank ini lebih kuat di digital sharia banking," kata Nixon usai Penandatanganan Akta Jual Beli dan Pengambilalihan Saham BVIS oleh BTN di kantornya.
Nixon menargetkan proses spin-off unit usaha syariah (UUS) BTN Syariah menjadi BUS rampung pada November 2025. Setelah akuisisi, perseroan akan langsung mengosongkan portofolio kredit dan dana pihak ketiga (DPK) sesuai perjanjian.
BACA JUGA:Limit KUR BTN 2025 Tembus 500 Juta, Modal UMKM Kini Melesat Tanpa Banyak Syarat
BACA JUGA:10 Jurusan Kuliah Alumninya Banyak Bekerja di BUMN Bank BTN
Lalu menyuntikkan UUS BTN ke dalam BVIS. Dalam dua tahun pertama setelah spin-off, akan ada infrastruktur BTN yang digunakan bersama dengan BUS baru hasil merger BTN Syariah dan BVIS itu. Terutama teknologi dan cabang. "Kami juga izin ke OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan BI (Bank Indonesia) ada infrastruktur yang kita sharing dulu sampai dua tahun ke depan setelah spin-off. Misalnya, BUS baru itu akan memiliki desk di setiap kantor cabang BTN," terang Nixon.
BTN juga akan melakukan rights issue sebesar Rp1 triliun dalam rangka spin-off UUS. Dana aksi korporasi itu akan menjadi bentuk penyertaan modal awal BUS hasil merger BTN Syariah dan BVIS. Sementara itu, modal awal saat ini masih berasal dari pendanaan internal BTN Rp3,5 triliun hingga Rp4 triliun dan Rp1,5 triliun dari nilai transaksi dari akuisisi BVIS. Jadi, modal awal BUS baru itu akan berkisar Rp6 triliun.
Dikatakan, nilai tersebut ideal untuk menjaga rasio kecukupan modal alias capital adequacy ratio (CAR) sebesar 18-19 persen. Seperti kondisi CAR induknya, BTN saat ini. ''BUS gabungan BTN Syariah dan BVIS nantinya akan memiliki nama baru yang ditentukan oleh Presiden Prabowo Subianto berdasar usul BTN dan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN),'' ujarnya yang mengharapkan bank baru ini akan diresmikan dan beroperasi setidaknya sebelum 2025 berakhir.
Direktur Risk Management BTN Setiyo Wibowo menambahkan, fokus bisnis BTN Syariah akan menyasar dua segmen nasabah. Yaitu segmen masyarakat syariah yang konformis dan konservatif yang memiliki loyalitas cukup tinggi terhadap perbankan syariah. ''Yang dinilai memiliki preferensi syariah tinggi, namun tidak menuntut layanan keuangan syariah yang kompleks,'' katanya.
BACA JUGA:Bank BTN Bakal Salurkan Pinjaman KPR Rumah Subsidi Bagi 20 Ribu Guru, Ini Syarat Penerimanya
Direktur Utama Victoria Investama, Aldo Jusuf Tjahaja, optimistis BVIS di bawah naungan BTN akan menjadi lembaga keuangan syariah yang bertumbuh dan lebih kompetitif ke depan. ''Harapan kami BVIS akan menjadi salah satu institusi pemain kuat di perbankan syariah Indonesia. Semoga kolaborasi ini dapat menjadi kemitraan strategis bersama dan mampu mendukung ekonomi masyarakat dan khususnya ekonomi nasional melalui sektor jasa keuangan syariah," katanya.
