INTERNASIONAL, SUMATERAEKSPRES.ID - Harga bitcoin berpotensi terkoreksi kian dalam hingga ke level US$50 ribu sebelum memasuki masa pemulihan. Perkiraan itu disampaikan Bank asal Inggris Standard Chartered dalam proyeksinya yang merevisi turun target harga jangka pendek dan akhir tahun 2026 untuk sejumlah aset kripto utama.
Sebagaimana dikutip dalam laporan CoinDesk, Head of Digital Assets Research Standard Chartered Geoffrey Kendrick menyebut bahwa risiko penurunan masih terbuka lebar. Bitcoin kata dia, dapat menguji area US$50 ribu sebagai titik potensi dasar harga, sebelum menemukan stabilitas.
Saat laporan ini diterbitkan, Bitcoin diperdagangkan di kisaran harga US$67.900. Bank asal Inggris itu memperkirakan tekanan terhadap aset kripto belum akan mereda.
Arus dana keluar dari produk exchange-traded fund (ETF) serta kondisi makro ekonomi global yang masih belum kondusif menjadi pemicu yang membebani harga. Kombinasi ini dinilai dapat mendorong fase kapitulasi lanjutan dalam jangka pendek.
Target harga akhir 2026 Bitcoin juga diturunkan menjadi US$100 ribu dari sebelumnya US$150 ribu. Walau melakukan revisi, Standard Chartered tetap mempertahankan pandangan positif untuk jangka panjangnya dengan target harga akhir pada 2030 mencapai US$500 ribu. Sejumlah faktor struktural seperti peningkatan adopsi serta penguatan infrastruktur industri masih menjadi fondasi pertumbuhan dalam jangka panjang.
BACA JUGA:Perkembangan Terbaru Harga Bitcoin dan Ethereum, Pasar Kripto Diterpa Tekanan
BACA JUGA:Tren Bitcoin & Ethereum Sepekan: Konsolidasi BTC, Tekanan Berat untuk ETH
Kendrick sendiri menerangkan, bahwa pelemahan harga beberapa waktu terakhir berpotensi berlanjut karena investor ETF cenderung mengurangi eksposur saat mengalami kerugian, bukannya malah menambah posisi di harga rendah.
Berdasarkan data, kepemilikan ETF Bitcoin telah menyusut hampir 100 ribu BTC sejak puncaknya pada Oktober 2025 dan rata-rata harga beli sekitar US$90 ribu. Sejumlah investor ETF saat ini menanggung kerugian belum terealisasi sekitar 25 persen.
Sejak awal tahun Bitcoin tercatat turun hampir 23 persen dan sempat terkoreksi sekitar 50 persen dari rekor tertingginya pada Oktober 2025. Penurunan ini diiringi peningkatan volatilitas, likuidasi besar pada posisi leverage, serta menguatnya sentimen risk-off yang membuat pergerakan kripto semakin berkorelasi dengan pelemahan pasar saham global. (*)