Sumatera Ekspres | Baca Koran Sumeks Online | Koran Sumeks Hari ini | SUMATERAEKSPRES.ID - SUMATERAEKSPRES.ID Koran Sumeks Hari ini - Berita Terhangat - Berita Terbaru - Berita Online - Koran Sumatera Ekspres

https://sumateraekspres.bacakoran.co/

Mitsubishi baru

Adok Komering, Satu Gelar Satu Garis

ADOK: Dalam Adat Komering, adok atau yang juga dikenal sebagai Gelaran/Jajuluk bukan sekadar sebutan kehormatan, melainkan sistem nilai yang menata hubungan kekerabatan, menentukan garis kepemimpinan keluarga, serta menjaga kesinambungan ajaran leluhur- Foto: kholid/sumeks-

OKU TIMUR, SUMATERAEKSPRES.ID- Di tengah laju perubahan sosial yang kian cepat, masyarakat Komering tetap berpijak pada satu nilai utama yang menjadi penyangga tatanan keluarga dan kepemimpinan adat. 

Salah satumya, Adok, atau yang juga dikenal sebagai Gelaran/Jajuluk. Tradisi ini bukan sekadar sebutan kehormatan, melainkan sistem nilai yang menata hubungan kekerabatan, menentukan garis kepemimpinan keluarga, serta menjaga kesinambungan ajaran leluhur.

Dalam pandangan adat Komering, Adok merupakan warisan tak benda (intangible heritage) yang bersumber dari Puyang Komering.Ia dijaga dan diwariskan turun-temurun di setiap Tiyuh Tuhha (desa tua) pada wilayah marga masing-masing. Karena itulah, setiap gelaran memiliki makna, fungsi, serta strata sosial yang jelas. Pemberiannya tidak pernah dilakukan sembarangan, melainkan berpijak pada silsilah, filosofi, dan hirarki adat yang ketat.

Salah satu gelaran paling fundamental—sekaligus kerap disalahpahami—adalah Adok Penyeimbang, yang di masyarakat dikenal sebagai Raja. Gelaran ini merupakan tingkatan adat tertinggi dalam struktur keluarga. Penerimanya menyandang nama Suttan atau Raja, sementara istrinya bergelar Ratu.

Di wilayah eks Marga Semendawai dan eks Marga Madang, Penyeimbang dikenal dengan sebutan Prabu, dengan pasangan bergelar Nai Prabu.Penerima Adok Penyeimbang bukan sosok sembarangan. Ia adalah cucu laki-laki tertua dari anak laki-laki tertua, yang dalam adat disebut Tegak Ginti—tunas utama penerus garis keturunan. 

BACA JUGA:8 Bulan Laporan Tipu Gelap Nyangkut, Warga OKUT Pertanyakan ke Penyidik Polda Sumsel

BACA JUGA:Hanyut di Sungai Seguci, Warga Okut Ditemukan di Serapek

Dalam keluarga besar, posisinya jelas: pemimpin dan penuntun keluarga, penjaga nilai adat dan moral, sekaligus pewaris langsung amanah leluhur.

Sebagai simbol keseimbangan peran laki-laki dan perempuan, istrinya juga dianugerahi nama adat yang bersumber dari garis Umbay (nenek). Prinsip utamanya tegas: Adok Penyeimbang bersifat tunggal. Dalam satu garis keturunan hanya ada satu Raja. Tidak dikenal adanya dua Penyeimbang dalam satu keluarga. Di titik inilah keseimbangan adat dijaga.

Ketua Lembaga Pembina Adat Kabupaten OKU Timur, H. Leo Budi Rachmadi, SE, menegaskan bahwa pemberian Adok tidak bisa dilepaskan dari struktur dan kasta adat. Hal itu disampaikannya dalam Forum Mufakat Adat IV, kemarin.

“Adok Raja dari kakek mutlak diwariskan kepada cucu laki-laki tertua. Sementara adik-adiknya memperoleh Adok lain yang bersumber dari gelaran para tetua terdahulu, sesuai silsilah masing-masing. Ini bukan soal status, tetapi menjaga kejelasan struktur kepemimpinan adat Komering,” tegas Leo.

Secara garis besar, Adok terbagi dalam dua kategori. Pertama, Adok Genetik, yang meliputi Adok Penyeimbang, Adok Penyansan, dan Adok Cumbuan—seluruhnya bersumber dari garis keturunan. 

BACA JUGA:Tim UKMC Gelar Pelatihan Public Speaking dan Keterampilan Manajerial di SMA Pengudi Luhur OKUT

BACA JUGA:Buat Bangga OKUT, Sumsel dan Indonesia

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan