Sumatera Ekspres | Baca Koran Sumeks Online | Koran Sumeks Hari ini | SUMATERAEKSPRES.ID - SUMATERAEKSPRES.ID Koran Sumeks Hari ini - Berita Terhangat - Berita Terbaru - Berita Online - Koran Sumatera Ekspres

https://sumateraekspres.bacakoran.co/

Mitsubishi baru

Optimisme Bernilai 200 Triliun

Susyanto Tunut, Dosen Universitas PGRI Silampar Lubuklinggau-FOTO: IST-

SUMATERAEKSPRES.ID - Sejak pandemi, masyarakat Indonesia terus berharap bahwa ekonomi akan segera pulih.

Survei konsumen terbaru Bank Indonesia menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Agustus 2025 masih di level 117,2. Secara teknis, angka di atas 100 berarti optimisme.

BACA JUGA:BRI Salurkan BSU Rp1,72 Triliun ke 2,8 Juta Pekerja, Dukung Daya Beli dan Pemulihan Ekonomi

BACA JUGA:Kerangka Kerja Sama Keuangan di Asia Timur dan Pasifik Diperkuat untuk Dukung Pemulihan Ekonomi

Namun jika diurai, optimisme itu lebih banyak bersumber dari harapan masa depan (Indeks Ekspektasi Konsumen 129,2) ketimbang kondisi nyata hari ini.

Justru Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini turun ke 105,1 (Bank Indonesia, 2025). Artinya, publik masih punya harapan, tetapi kehidupan sehari-hari belum membaik sesuai ekspektasi.

GoodStats (2025) mencatat rata-rata 75% pendapatan rumah tangga habis untuk konsumsi, sementara tabungan hanya sekitar 14%.

Ruang keuangan semakin sempit; jika ada guncangan harga atau kehilangan pekerjaan, daya tahannya tipis. Publik mulai merasa optimis sekaligus lelah.

Berbeda dengan pengalaman masyarakat, data perbankan justru tampak menenangkan. Rasio Non-Performing Loan (NPL) gross per Maret 2025 hanya 2,24%, dengan NPL net 0,83%. Angka ini masih jauh dari level krisis.

Namun, Loan at Risk (LAR) mencapai 9,92% (OJK, 2025). Itu berarti hampir 1 dari 10 kredit berada di zona rawan.

Indikator ini menggambarkan paradoks: bank relatif stabil, tetapi sektor riil penuh tekanan. Kredit bermasalah belum melonjak drastis, tetapi potensi memburuk selalu ada.

Bagi publik, stabilitas bank tanpa perbaikan nyata di lapangan terasa seperti statistik dingin yang jauh dari dapur rumah tangga.

Pemerintah mencoba menjembatani jurang ini dengan menyiapkan suntikan Rp200 triliun.

Tujuannya jelas: menjaga kepercayaan pada sistem keuangan dan memastikan kredit terus mengalir ke sektor produktif. Secara teori, dana jumbo ini bisa menahan laju NPL sekaligus mengurangi tekanan LAR.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan