Pembuat Tato di BKB Kembali Berulah, Empat Atlet Pornas Korpri Asal PBD Jadi Korban Pemerasan
INTEROGASI: Kasat Pol-PP Kota Palembang, Dr Herison SH MH, saat menginterogasi langsung terduga pelaku pemerasan terhadap empat orang atlet Pornas Korpri XVII senilai Rp1,5 juta dengan modus menawarkan jasa pembuatan tato, Selasa (7/10) malam. -Foto : kemas/sumeks -
PALEMBANG, SUMATERAEKSPRES.ID - Wali Kota Palembang, H Ratu Dewa, angkat bicara terkait viralnya video salah seorang atlet asal Papua Barat Daya (PBD) yang tengah mengikuti Pornas Korpri XVII yang informasi kembali diperas oleh pembuat tato di kawasan Benteng Kuto Besak (BKB) sebesar Rp1,5 juta.
"Sudah saya perintahkan Kasat Pol-PP menindaklanjuti video viral yang kembali mencoreng citra Kota Palembang. Terlebih yan menjadi korban adalah atlet luar Provinsi Sumsel yang tengah mengikuti kegiatan Pornas Korpri di Palembang," sebut Dewa.
Dia mengingatkan tidak akan pernah mau mentolelir setiap tindakan yang melanggar hukum, terlebih yang menyangkut nama baik Kota Palembang.
Sementara itu, Kasat Pol-PP Kota Palembang, Dr Herison menyebut pihaknya ga telah mengamankan pembuat tato yang diduga melakukan pemerasan tersebut.
"Tadi malam telah berhasil kita amankan dan dilakukan interogasi di Kantor Sat Pol-PP. Dia membantah telah melakukan tindak pemerasan terhadap atlet asal Papua Barat Daya tersebut, melakukan negosiasi harga yang telah disepakati bersama," sebut Herison.
BACA JUGA:Viral Mobil Kena Tembak di Jalan Poros, Pelaku Pemerasan Ditangkap Polisi Empat Lawang
Si oknum pembuat tato berinisial H ini, terang Herison, mengaku saat itu ada empat orang yang datang ke lapak tato miliknya di kawasan BKB. Pertama, mereka nego hendak memasang tato dengan tarif Rp1,5 juta dan hendak menawar menjadi seharga Rp800 ribu hingga akhirnya disepakati seharga Rp1,2 juta. Lalu, satu orang tato seharga Rp300 ribu. Sehingga total mereka pesan minta dibuatkan tato seharga Rp1,5 juta.
Setelah itu, H langsung membuatkan tato sesuai dengan pesanan namun setelah selesai mentato, keempat atlet Papua Barat Daya tersebut mengaku tidak membawa uang dan meminta H untuk ikut dengan mereka ke salah satu hotel di Jl Merdeka yang tak seberapa jauh dari kawasan BKB.
"Jadi, terduga pelaku ini menegaskan tidak ada praktik pemerasan melainkan hanya negosiasi," tandasnya.
Herison menyebut pihaknya juga akan meminta keterangan dari korban untuk memastikan kebenarannya, sehingga sesuai fakta yang ada.
Untuk mengantisipasi tindakan-tindakan premanisme di Palembang, khususnya di tempat objek wisata atau landmark tertentu di Palembang, pihaknya sudah melakukan upaya antisipasi meminimalisir tindakan pidana.
BACA JUGA:Oknum Polisi Satres Narkoba Prabumulih Dilaporkan ke Propam Polda Sumsel, Diduga Lakukan Pemerasan
