Sumatera Ekspres | Baca Koran Sumeks Online | Koran Sumeks Hari ini | SUMATERAEKSPRES.ID - SUMATERAEKSPRES.ID Koran Sumeks Hari ini - Berita Terhangat - Berita Terbaru - Berita Online - Koran Sumatera Ekspres

https://sumateraekspres.bacakoran.co/

Mitsubishi baru

Iklan Google/Link Sponsor

Singgung soal Kesiapan Program B50, Deru Minta Ini di Hadapan Peserta Andalas Forum VI

ANDALAS FORUM : Gubernur Sumsel Dr H Herman Deru SH MM bersama para peserta Andalas Forum VI Tahun 2026 di Ballroom Hotel Aryaduta, kemarin (16/4).-FOTO : KRIS SAMIAJI/SUMEKS-

PALEMBANG, SUMATERAEKSPRES.ID - Terjadinya persiteruan dan krisis politik global di Timur Tengah berimbas terhadap penurunan ekspor sawit hingga 30 persen. 

Hal ini disampaikan Gubernur Sumsel, Dr H Herman Deru SH MM di hadapan para peserta Andalas Forum VI Tahun 2026 di Hotel Aryaduta, kemarin (16/4).


Iklan Google/Link Sponsor

BACA JUGA:GAPKI Cabang Sumsel Lindungi Pekerja Perempuan di Perkebunan Sawit, Ini Upayanya

BACA JUGA:Alex Sugiarto Kembali Pimpin Gapki Sumsel, Komitmen Perkuat Industri Sawit dan Ekonomi Daerah

Kegiatan tahunan ini terselenggara atas kerja sama Gabungan Asosiasi Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) dan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPD PKS).

"Tapi dengan kondisi yang ada seperti saya ini saya tetap optimis ketahanan ekonomi nasional, terutama di sektor kelapa sawit, akan tetap terjaga eksistentinya," sebut Deru dalam sambutannya.

Deru pun menyinggung kesiapan menuju program B50 di bulan Juli 2036 mendatang yang diperkirakan membutuhkan hingga 16 juta ton bahan baku.

“Ini angka besar, tapi dengan produktivitas yang baik, saya yakin ini bukan beban, melainkan peluang,” imbuhnya.

Terkait penyelenggaraan Andalas Forum VI tahun 2026 dimana Sumsel dipercaya menjadi tuan rumah, Deru mengharapkan agar forum ini dapat dijadikan sebagai momentum untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap sektor perkebunan sawit dan ikutannya.

Terlebih lagi berdasarkan data yang ada dari total luas perkebunan sawit nasional mencapai 16,8 juta hektare, sekitar 8 persen berada di Sumsel. 

Yang menjadikan provinsi ini sebagai salah satu kontributor penting dalam produksi dan ekspor. “Di sinilah kita membedah semua persoalan, baik internal organisasi maupun tantangan global. Kita tidak bisa menutup mata terhadap dinamika yang terjadi,” ujarnya.

Diapun mengingatkan berbagai persoalan klasik di sektor sawit masih menjadi pekerjaan rumah, mulai dari fluktuasi harga minyak goreng yang sempat melampaui HET, polemik kebijakan PKS brondol, hingga maraknya pencurian TBS (tandan buah segar). 

Iapun mendorong agar forum ini mampu melahirkan rekomendasi konkret, termasuk solusi atas persoalan hukum yang kini beririsan dengan aturan KUHP baru.

“Jangan sampai gubernur, bupati, atau wali kota disalahkan, karena banyak kebijakan ini berasal dari pusat. Forum ini harus berani memberi rekomendasi,” tegasnya.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan