Sumatera Ekspres | Baca Koran Sumeks Online | Koran Sumeks Hari ini | SUMATERAEKSPRES.ID - SUMATERAEKSPRES.ID Koran Sumeks Hari ini - Berita Terhangat - Berita Terbaru - Berita Online - Koran Sumatera Ekspres

https://sumateraekspres.bacakoran.co/

Mitsubishi baru

Black Phone 2: Panggung Baru di Bayangan Trauma Remaja

Empat tahun setelah melarikan diri dari cengkeraman maut, Finney Blake (17) kini hidup dengan luka yang tak kasat mata.-Foto: IST -

SumateraEkspres.id – Empat tahun setelah melarikan diri dari cengkeraman maut, Finney Blake (17) kini hidup dengan luka yang tak kasat mata.

Di balik senyum remajanya, tersimpan sisa-sisa trauma yang belum sembuh. Ia mencoba menata hari-harinya di sekolah menengah atas, berbaur seperti remaja lain, namun bayangan masa lalu terus mengintai.

Sementara itu, sang adik, Gwen, berusaha menutupi kemampuan psikisnya yang semakin kuat. Kekuatannya bukan lagi anugerah, melainkan beban yang menuntut keberanian luar biasa untuk dipikul.

Namun, masa lalu tidak pernah benar-benar pergi. Telepon Hitam yang dahulu menjadi saksi teror kini kembali — bukan di dunia nyata, melainkan di alam bawah sadar Finney dan Gwen.

BACA JUGA:Mimpi Jadi Miliuner, Pegawai Koperasi di Banyuasin Tersandung Kasus Penggelapan Dana untuk Trading Kripto

BACA JUGA:Sekolah Hybrid 3.0: Menyatukan Dunia Nyata, Virtual, dan AI demi Masa Depan Pendidikan

Dalam mimpi Gwen, telepon itu berdering, keras dan menggema. Setiap dering membawa potongan penglihatan mengerikan: tiga anak laki-laki hilang di sebuah perkemahan musim dingin di Alpine Lake.

Yang mengejutkan, para korban tidak meminta pertolongan. Mereka justru berbisik lirih tentang “Kebutuhan” The Grabber — sebuah ritual kelam yang harus diselesaikan demi kebangkitannya.

Didorong oleh rasa bersalah dan intuisi yang tajam, Gwen memaksa Finney menghadapi kembali masa lalu mereka. Perjalanan ke Alpine Lake membawa keduanya ke tempat yang tak mereka duga: titik penghubung antara dunia manusia dan dunia arwah.

Di sanalah terungkap sebuah rahasia kelam — file kasus polisi lama yang disembunyikan rapat, menyiratkan bahwa teror The Grabber mungkin berakar dari garis keturunan keluarga mereka sendiri.

BACA JUGA:Satu Rumah di Lrg Jayalaksana 3-4 Ulu Terbakar, Warga dan Damkar Berjuang Padamkan Api

BACA JUGA:Jembatan Ampera: Penopang Sejarah, Politik, dan Budaya di Palembang

Kini, The Grabber bukan lagi manusia. Ia hadir sebagai entitas gaib yang menjelajah melalui Telepon Hitam, menjadikan trauma Finney sebagai senjata, dan penglihatan Gwen sebagai jalan masuk ke realitas mereka.

Pertarungan utama tak lagi terjadi di ruang bawah tanah seperti dulu, melainkan di medan psikis yang menegangkan antara kesadaran dan ketakutan.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan