Kenapa Banyak Lulusan Sarjana Jadi Pengangguran? Ini Analisis Faktor Utama dan Solusi Nyatanya
Fenomena meningkatnya jumlah sarjana yang jadi pengangguran kini menjadi sorotan tajam dalam dinamika sosial dan ekonomi Indonesia.-Foto: IST-
SUMATERAEKSPRES.ID - Fenomena meningkatnya jumlah sarjana yang jadi pengangguran kini menjadi sorotan tajam dalam dinamika sosial dan ekonomi Indonesia. Setiap tahun, kampus-kampus di seluruh negeri melepas ribuan lulusan baru dengan penuh optimisme.
Namun setelah toga dilepas dan ijazah digenggam, banyak yang justru berhadapan dengan kenyataan pahit: pekerjaan impian tidak semudah itu digapai.
Persaingan kerja yang semakin ketat, jumlah lowongan yang stagnan, serta transformasi industri yang begitu cepat membuat banyak lulusan merasa tertinggal.
Pertanyaan besar pun mengemuka—mengapa gelar sarjana tak lagi menjamin masa depan yang stabil?
BACA JUGA:7 Jurusan Kuliah dengan Paling Gampang Cari Kerja, Dijamin Anti Pengangguran
BACA JUGA:8 Jurusan Kuliah dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi di Indonesia
Jurusan Tidak Selaras dengan Kebutuhan Industri
Salah satu akar persoalan terletak pada ketidaksesuaian antara program studi dan kebutuhan dunia kerja.
Banyak mahasiswa memilih jurusan berdasarkan tren, minat sesaat, atau tekanan lingkungan tanpa riset mendalam mengenai prospek karier.
Akibatnya, surplus lulusan terjadi di sektor tertentu, sementara industri lain justru kekurangan tenaga terampil.
Perusahaan kini tidak lagi sekadar mencari lulusan berijazah, tetapi menginginkan tenaga kerja dengan keahlian relevan yang langsung bisa diterapkan.
BACA JUGA:7 Jurusan Kuliah di Indonesia dengan Tingkat Pengangguran Lulusan Tertinggi
Minim Keterampilan Praktis
Meski perkuliahan memberikan landasan teori yang kuat, tidak sedikit lulusan yang gagap saat memasuki dunia profesional.
Banyak perusahaan menilai fresh graduate kurang menguasai kemampuan praktis seperti problem solving, komunikasi efektif, kolaborasi, manajemen proyek, hingga kemampuan beradaptasi di lingkungan kerja.
