Sumatera Ekspres | Baca Koran Sumeks Online | Koran Sumeks Hari ini | SUMATERAEKSPRES.ID - SUMATERAEKSPRES.ID Koran Sumeks Hari ini - Berita Terhangat - Berita Terbaru - Berita Online - Koran Sumatera Ekspres

https://sumateraekspres.bacakoran.co/

Mitsubishi baru

Kenali Kusta, Hapus Stigma, RSMH Gelar Penyuluhan Dalam Rangka Peringati Hari Kusta

Dr dr Rusmawardiana SpDVE Subsp.DT FINSDV FAADV-foto: ist-

PALEMBANG, SUMATERAEKSPRES.ID -  Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit kusta dapat menghapus stigma pada penderitanya. Dalam upaya itu, RSUP Dr Mohammad Hoesien gelar penyuluhan dengan tema "Kenali Kusta, Hapus Stigma". Sosialisasi bertempat  di Poli Lantai 2, dalam rangka Hari Kusta  yang diperingati setiap minggu terakhir Januari.

Dalam sosialisasi ini, masyarakat diedukasi tentang fakta-fakta penting seputar kusta sekaligus menghapus stigma negatif terhadap penderitanya.  Dokter Dermatologi Venereologi dan Estetika Subspesialis Dermatologi Infeksi RSMH, Dr dr Rusmawardiana SpDVE Subsp.DT FINSDV FAADV menyampaikan, Indonesia menempati posisi ketiga jumlah kasus kusta terbanyak di dunia setelah India dan Brasil. 

“Berdasarkan data Kementerian Kesehatan tahun 2024, terdapat 14.376 kasus baru kusta di Indonesia dengan angka kecacatan sebesar 5,7 persen,” bebernya, kemarin.   Kata dia, Kusta adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini memiliki masa inkubasi yang panjang, yaitu sekitar 2 hingga 5 tahun. 

Kusta menyerang saraf tepi, kulit, mukosa mulut, saluran napas bagian atas, mata, otot, serta tulang. "Penularan kusta terjadi melalui droplet (percikan cairan saat batuk atau bersin) atau kontak kulit langsung yang erat dan berkepanjangan dengan penderita yang belum mendapatkan pengobatan," ulas dr Rusmawardiana.

BACA JUGA:Kenali Kusta, Hapus Stigma, Edukasi Masyarakat di Hari Kusta

BACA JUGA:Fakta Seputar Penyakit Kusta, Infeksi Kronik pada Kulit

Ia menjelaskan pentingnya mengenali tanda-tanda kardinal kusta. Beberapa tanda utama meliputi bercak putih atau merah pada kulit yang mati rasa,dan  penebalan saraf tepi. Juga ditemukannya bakteri tahan asam pada pemeriksaan apusan kulit. "Deteksi dini dan pengobatan yang tepat menjadi kunci untuk menyembuhkan kusta sepenuhnya. Dalam banyak kasus, pasien yang mendapatkan pengobatan segera dapat terhindar dari risiko kecacatan permanen," ulas dia.

Dr Rusmawardiana dengan tegas membantah kalau  kusta adalah penyakit kutukan, penyakit keturunan, atau akibat dari santet dan guna-guna.  Ia menyatakan, kusta adalah penyakit yang dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tersedia secara gratis di Puskesmas menggunakan Multi Drug Therapy (MDT). "MDT adalah kombinasi obat yang efektif untuk membunuh bakteri penyebab kusta dan mencegah resistensi obat," pungkas dia.

Tantangan terbesar dalam penanganan kusta bukan hanya pada pengobatannya. Tapi juga pada stigma sosial yang seringkali melekat pada penderitanya. Banyak pasien kusta yang mengalami diskriminasi, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun tempat kerja.  "Hal ini membuat mereka enggan untuk mencari pengobatan dan cenderung menyembunyikan penyakitnya," papar dia

Melalui edukasi berkelanjutan seperti penyuluhan di RSMH ini, diharapkan masyarakat dapat lebih memahami bahwa kusta adalah penyakit yang dapat disembuhkan. "Dengan pengobatan yang tepat dan dukungan lingkungan yang positif, penderita kusta dapat kembali menjalani kehidupan secara normal,"papar dia.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan