ASI Keluar Meski Tak Hamil, Ini Penyebabnya
dr Asmar Dwi Agustine SpOG-FOTO: IST-
PALEMBANG, SUMATERAEKSPRES.ID - Air Susu Ibu (ASI) umumnya keluar saat hamil dan menyusui. Namun, bisa juga terjadi meski tidak hamil karena berbagai penyebab seperti ketidakseimbangan hormon, efek samping pengobatan, atau kondisi kesehatan tertentu.
Kondisi ini disebut galaktorea. Hal tersebut diungkap dr Asmar Dwi Agustine SpOG dari RS Hermina Opi Jakabaring, Selasa (13/1).
Iklan Google/Link Sponsor
BACA JUGA:Waspadai Mitos Kanker Payudara, Ini Penjelasan Dokter Onkologi di Palembang
BACA JUGA:Cegah Kanker Payudara Sejak Dini: Sadari Lebih Penting daripada Takut Nyeri
Katanya, penyebab terjadinya bisa dipicu lonjakan hormon prolaktin, stimulasi payudara yang berlebihan, beberapa obat-obatan, tiroid yang kurang aktif, penyakit ginjal kronis, dan penggunaan obat-obatan tertentu. Selain itu, stres dan respons emosional terhadap bayi juga dapat memicu galaktorea.
Lebih jauh dijelaskan, gejala lain yang mungkin menyertai galaktorea termasuk sakit kepala, haid tidak teratur, pembesaran jaringan payudara, dan mual.
"Jika cairan yang keluar dari puting tidak seperti susu atau berwarna jernih, kuning, atau berdarah, segera temui dokter karena bisa jadi tanda-tanda kondisi serius seperti kanker payudara," ungkapnya lagi.
Menurutnya, untuk mengurangi kemungkinan keluarnya ASI meski tidak hamil adalah dengan menghindari penggunaan bra atau pakaian yang intens menyentuh puting, merangsang payudara terlalu sering, dan praktik cara sehat untuk mengurangi stres.
"Jika ASI keluar tanpa kehamilan atau menyusui, kondisi ini dikenal sebagai galaktorea," ucapnya lagi.
Penyebab potensial dari galaktorea: gangguan hormonal yakni ketidakseimbangan hormon seperti prolaktin bisa menyebabkan ASI keluar. Lalu beberapa obat, seperti antidepresan atau antipsikotik, bisa memicu produksi ASI.
BACA JUGA:Anti-Mahal, Ini Cara Merawat Payudara agar Tetap Sehat dan Kencang
BACA JUGA:Pahami ! Ini 9 Cara Mencegah Kanker Payudara pada Wanita
Pijatan atau stimulasi payudara yang berlebihan juga bisa jadi pemicu, lalu gangguan pada kelenjar pituitari atau hipotiroidisme, dan tingkat stres yang tinggi juga bisa mempengaruhi hormon.
"Jika mengalami hal ini, disarankan untuk konsultasi dengan dokter guna mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat," tutupnya. (nni/lia/)
