Jurusan Kuliah Paling Terancam AI: Tantangan, Perubahan, dan Strategi Bertahan di Era Digital
Revolusi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan dan pekerjaan.-Fot: IST-
SUMATERAEKSPRES.ID — Revolusi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan dan pekerjaan.
Sejumlah profesi dan jurusan kuliah mulai terdampak, terutama yang berfokus pada tugas repetitif dan administratif.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan penting bagi generasi muda: apakah jurusan yang dipilih hari ini masih relevan lima hingga sepuluh tahun ke depan?
Berikut gambaran komprehensif mengenai jurusan yang paling terdampak disrupsi AI, perubahan lanskap karier, dan strategi adaptasi agar tetap kompetitif di era kecerdasan buatan.
BACA JUGA:Turnamen Tenis Meriah Warnai HUT Ke-40 IKADIN Sumsel
BACA JUGA:Terpilih Jadi Ketua DPD ARMI Sumsel, Dika Tegaskan Komitmen Berantas Mafia Rental Mobil
Jurusan yang Berpotensi Tergantikan AI
Kemajuan AI membuat banyak pekerjaan yang dulu hanya bisa dikerjakan manusia kini dapat dilakukan sistem otomatis. Beberapa jurusan mulai menghadapi risiko besar:
1. Akuntansi
Kemampuan AI dalam mengolah dan memverifikasi data keuangan membuat tugas dasar akuntansi seperti entri data, pembukuan, hingga audit awal dapat dilakukan secara otomatis. Lulusan akuntansi kini perlu mengalihkan fokus ke peran analis, penasihat pajak, atau konsultan keuangan yang melibatkan pengambilan keputusan tingkat tinggi.
2. Administrasi Bisnis
Fungsi administrasi, manajemen inventaris, hingga analisis operasional mulai diambil alih sistem otomatis berbasis machine learning. Untuk bertahan, mahasiswa administrasi disarankan memperkuat kemampuan data analytics dan digital leadership.
BACA JUGA:AI Mengambil Alih! 11 Jurusan Sarjana Ini Lulusannya Paling Berisiko Kehilangan Peluang Kerja
BACA JUGA:Rekomendasi Jurusan yang Tetap Relevan di Era AI dan Automasi
3. Ilmu Komputer
Meski terlihat bertolak belakang, jurusan ini justru mengalami transformasi besar. AI generatif sudah mampu membuat kode, mendeteksi bug, hingga menciptakan aplikasi sederhana. Namun peluang tetap terbuka bagi mereka yang mampu mengembangkan sistem AI, membangun arsitektur perangkat lunak, dan memimpin pengembangan teknologi skala besar.
4. Jurnalistik dan Komunikasi
AI mampu memproduksi artikel, caption, hingga skrip video dalam hitungan detik. Kendati demikian, konten mendalam, investigatif, dan berbasis emosi tetap membutuhkan sentuhan manusia.
5. Hukum
AI kini digunakan untuk menyusun kontrak standar, mencari referensi hukum, hingga memprediksi putusan berdasarkan data. Peran hukum yang melibatkan negosiasi dan interpretasi etika masih sulit tergantikan, sehingga lulusan perlu menguasai hukum teknologi atau kebijakan digital.
