Petani Benakat Minyak Belajar Menembus Pasar
PELATIHAN: Pelatihan bertajuk strategi pemasaran produk pertanian berbasis Program Kampung Iklim (ProKlim) ini digelar PT Pertamina EP (PEP) Pendopo Field untuk petani PALI. -FOTO: DIAN/SUMEKS-
PRABUMULIH, SUMATERAEKSPRES.ID - Pagi itu, sinar matahari menembus jendela aula Desa Benakat Minyak, Kabupaten PALI. Suasana hangat terasa ketika puluhan petani duduk melingkar menghadap papan tulis yang penuh diagram rantai pasar.
Kendati materi terbilang baru bagi sebagian besar peserta, antusiasme mereka jelas terlihat. Para petani datang tidak hanya untuk belajar, tetapi juga untuk berubah menjadi pelaku pertanian yang lebih adaptif dan tangguh menghadapi tantangan zaman.
Iklan Google/Link Sponsor
Pelatihan bertajuk strategi pemasaran produk pertanian berbasis Program Kampung Iklim (ProKlim) ini digelar PT Pertamina EP (PEP) Pendopo Field. Kegiatan tersebut menjadi lanjutan setelah sebelumnya petani mendapat pembinaan mengenai pembuatan pupuk organik padat dan cair. Bila pelatihan sebelumnya berfokus pada penguatan produksi.
Sesi kali ini diarahkan untuk membuka wawasan bahwa keberhasilan pertanian modern tidak hanya bertumpu pada kualitas tanah, tetapi juga kemampuan memahami kebutuhan pasar. “Kami jadi paham hasil tani tidak cukup bagus saja, tapi juga harus tahu cara menjual dan mengenalkan produk ke masyarakat luas,” ujar salah satu peserta pelatihan, menggambarkan perubahan pola pikir yang mulai tumbuh di kalangan petani Benakat Minyak.
BACA JUGA:Rahasia Emas Cair, Menyingkap Keajaiban Minyak Zaitun untuk Tubuh dan Kulit
BACA JUGA:Inovasi Abon Lele Rendah Minyak, Tim Dosen FP UM Palembang Tingkatkan Kualitas dengan Teknologi
Manager Community Involvement & Development (CID) PHR Regional Sumatra, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan, tantangan terbesar petani saat ini bukan lagi sekadar cuaca atau kesuburan lahan. ‘’Persaingan pasar yang ketat menuntut petani untuk memahami strategi branding, pengemasan, hingga akses penjualan modern,’’ ujarnya.
Pelatihan tersebut merupakan bagian dari implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) milik perusahaan, yang menggabungkan pemberdayaan masyarakat dengan upaya pelestarian lingkungan. “Pelatihan ini diharapkan menjadi jembatan bagi petani untuk mengoptimalkan hasil panen dan memperkuat ketahanan ekonomi,” jelas Iwan.
Dukungan juga datang dari pemerintah daerah. Lihan, Kepala Bidang Persampahan, Limbah B3, dan Pengendalian Pencemaran DLH Kabupaten PALI, menilai kegiatan ini sebagai langkah konkret sinergi antara pemerintah dan perusahaan. Kolaborasi seperti ini dinilai efektif mendorong pertanian berkelanjutan di wilayah PALI.
Sementara itu, Camat Talang Ubi, Emilya, mengatakan, dengan kemampuan memasarkan produk secara efektif, petani dapat meningkatkan nilai jual hasil panen, memperluas jaringan pemasaran, dan memperkuat fondasi ekonomi rumah tangga. “Petani bukan hanya menjaga dapur tetap mengepul, tetapi juga meningkatkan daya tahan keluarga di tengah perubahan iklim yang semakin tidak menentu,” ujarnya.
Kepala Desa Benakat Minyak, Edi Suprapto mengatakan, pelatihan semacam ini tidak hanya memberikan keterampilan baru, tetapi juga mendorong semangat kebersamaan dan kemandirian warga.
Kini, bagi petani Benakat Minyak, pelatihan pemasaran tidak lagi sekadar tambahan ilmu. Ia telah menjelma menjadi langkah penting menuju kemandirian ekonomi. Mereka mulai memahami bahwa petani masa kini harus mampu membaca arus zaman, menyesuaikan diri, dan berani menembus pasar yang lebih luas.
