Pekarangan Rumah Terbatas,Tanam Bawang Hidroponik
HIDROPONIK: Menanam bawang secara hidroponik diterapkan warga Desa Peracak, Kecamatan Bunga Mayang, OKU Timur di halaman yang terbatas.-FOTO: kholid/SUMEKS-
OKU TIMUR, SUMATERAEKSPRES.ID-Deretan pipa paralon putih tampak berjajar rapi di samping sebuah rumah sederhana di Desa Peracak, Kecamatan Bunga Mayang. Sekilas terlihat biasa. Namun jika didekati, di atas pipa yang memanjang tumbuh daun bawang yang menghijau.
Itulah tanaman sistem hidroponik yang dikembangkan Khairul (32), warga setempat. Dia berhasil menyulap pekarangan sempit menjadi ruang produksi pangan. Tanpa tanah, tanpa sawah, hanya bermodal pipa bekas, rangka besi, pompa air, dan ketekunan, ia membuktikan bahwa inovasi bisa lahir dari keterbatasan.
Khairul bukan petani dengan latar belakang akademik pertanian. Ia belajar secara otodidak, memanfaatkan internet dan media sosial untuk memahami dasar-dasar hidroponik. Awalnya sekadar mencoba mengisi waktu luang.
Namun hasil di luar dugaan. Bawang yang ditanam justru tumbuh lebih rimbun dan bersih dibandingkan cara konvensional. “Awalnya cuma iseng. Lihat video di internet, lalu saya coba rakit sendiri. Ternyata cocok, bawangnya cepat tumbuh dan daunnya hijau,” ujar Khairul sambil menunjuk instalasi hidroponiknya.
BACA JUGA:Butuh Bawang Tinggal Ambil, Membantu Kebutuhan Dapur
Ia memilih bawang karena tanaman ini memiliki perputaran panen cepat dan kebutuhan pasar yang stabil. Dengan sistem hidroponik, Khairul tak perlu berhadapan dengan tanah keras, gulma, atau hama berlebihan. Air nutrisi dialirkan secara teratur melalui pipa, memastikan setiap rumpun mendapat asupan yang sama.
Di atas instalasi itu, paranet dipasang untuk melindungi tanaman dari sengatan matahari langsung. Perawatannya dilakukan secara rutin. Setiap pagi dan sore, Khairul mengecek aliran air, membersihkan pipa dari lumut, serta menakar ulang larutan nutrisi. Semua dicatat rapi, dari masa tanam hingga waktu panen.
Hasilnya mulai terasa. Panen bawang dari kebun kecil tersebut kini tak hanya mencukupi kebutuhan dapur keluarganya. Sebagian hasil panen dijual ke tetangga dan pasar sekitar desa. Meski masih berskala kecil, langkah itu menjadi awal sumber penghasilan tambahan. “Kalau ke depan permintaan meningkat, saya ingin menambah instalasi. Siapa tahu bisa berkembang dan bermanfaat juga untuk warga sekitar,” katanya penuh harap.
