Sumatera Ekspres | Baca Koran Sumeks Online | Koran Sumeks Hari ini | SUMATERAEKSPRES.ID - SUMATERAEKSPRES.ID Koran Sumeks Hari ini - Berita Terhangat - Berita Terbaru - Berita Online - Koran Sumatera Ekspres

https://sumateraekspres.bacakoran.co/

Mitsubishi baru

Petani Sumsel Panen Raya Berkat Energi Surya Ramah Lingkungan

TENAGA SURYA : Sejumlah petani di Sumsel memanfaatkan pompa air tenaga surya (PATS) dan PLTS irigasi untuk mengairi lahan pertaniannya.-FOTO : IST-

“Ini akan sangat membantu petani menghemat pengeluarannya, karena setiap masuk masa tanam mereka habiskan uang Rp10 juta per hektare untuk modal bercocok tanam,” sebutnya.  

Mulai dari membiayai pengolahan lahan seperti sewa rotavator dan traktor roda empat, membeli benih padi, pestisida, pupuk, upah tenaga kerja, membeli BBM untuk pompa air.

Meski ia tak menampik, penghasilan petani (bruto) di Sungai Belida cukup besar mencapai Rp52 juta per hektare per musim, dengan asumsi harga pembelian pemerintah (HPP) GKP (gabah kering panen) Rp6.500 per kg.

“Selain menyisihkan modal, petani mesti menghidupi keluarganya empat bulan ke depan. Mereka masih harus menabung sedikit demi sedikit jika mau membeli pompa air tenaga surya,” tutur warga Sungai Belida ini.

Kalau urunan kelompok, lanjut Yusuf, mungkin belum. “Satu PATS bisa mengairi berhektare-hektare sawah, tapi dana kas kelompok tani masih seadanya. Tak cukup membeli pompa kapasitas besar,” sebutnya.

Di Kabupaten Muara Enim, petani Tanjung Raja mengoperasikan PLTS irigasi dengan 60 panel surya kapasitas 16,5 kWp atau 275 Wp per panel sejak tahun 2020.

Hingga kini 5 tahun berselang, PLTS bantuan CSR salah satu BUMN itu tetap aktif mengairi 6-11 hektare sawah 25 petani yang ada.

“Pada periode tanam kedua (IP 200) musim kering, kita hidupkan sepanjang matahari bersinar terik, mulai jam 9 pagi sampai 3 sore,” ujar Ketua Kelompok Tani Sehati Desa Tanjung Raja, Hopaini kepada Sumatera Ekspres, Selasa (4/11).

IP 200 berlangsung sekira bulan April sampai Agustus, sementara IP 100 berlangsung pada musim hujan sekitar November-Februari.

“Bulan Agustus-September lalu kita baru selesai panen IP 200, produksi padi petani rata-rata 4-4,5 ton GKG per hektare per musim,” lanjutnya.

Nah saat ini masuk masa tanam pertama, hujan mulai sering turun. Jika sawah banyak air-nya, PLTS irigasi tak dinyalakan.

“Kita hidupkan pompa air submersible solar panel saat air dibutuhkan misalnya curah hujan minim, sawah kering, atau tanaman padi kekurangan air.

Air disedot dari Sungai Enim dengan debit (kecepatan) 30 liter per detik, lalu dialirkan melalui pipa sepanjang 1 km ke bak intake (penampungan),” sebutnya.

Hopaini menyebut keberadaan PLTS irigasi tak lagi membuat petani khawatir gagal panen akibat kekeringan.

Sebelum ada PLTS irigasi, petani hanya mampu menanam padi satu kali setahun, saat musim hujan saja.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan