Punya Perahu Besar Pembawa Keranda
Jagolano merupakan nama salah satu desa di Kecamatan Rantau Panjang Kabupaten Ogan Ilir. FOTO: IST--
Berdasarkan penelusuran sejarah, di antara orang yang pertama kali merintis Dusun Anyar yaitu dua bersaudara yang hari ini sering disebut Buyut Kedalu dan Buyut Katibun.
"Menurut warga terdahulu, Desa Jagolano memiliki perahu khusus berukuran besar. Perahu ini untuk menyeberangkan keranda menuju pemakaman lama.
Jika kondisi air sedang dalam, rombongan pengantar jenazah akan terus melalui jalur sungai sampai ke Desa Suka pindah," jelasnya.
Namun jika air sedang surut, keranda akan digotong dengan berjalan kaki. Mulai dari seberang Jagolano, Desa Sukapindah dan terus sampai ke Desa Siring Alam atau Bangsal.
Karena jauhnya jarak yang ditempuh maka keranda digotong secara bergantian hingga puluhan kali. Perjalanan ke makam lama Jagolano dengan jalur air menaiki perahu dari masjid Jagolano menuju seberang dari Ulak dan Risam Jasim.
"Berdasarkan penelusuran yang kami lakukan, perjalanan dari Desa Jagolano ke lokasi pemakaman di Siringalam berjarak sekitar 6,2 km.
Sehingga bisa dipastikan perjalanan darat mengantarkan jenazah zaman dahulu jika keberangkatan pagi baru tiba lagi di Desa Jagolano sore," tukasnya.
BACA JUGA:Kain Gebeng, Tenun Kain Khas Ogan Ilir yang Terlupakan
BACA JUGA:Masjid Kapal, Mitos Gua Naga hingga Beduk Kayu Unglen
Area pemakaman ini dinamakan kuba. Konon dibangun pada masa kepemimpinan Haji Ucin, merupakan Kriye (Kades) Jagolano pertama yang dilantik tahun 1920 pada masa penjajahan Belanda.
Kuba menjadi ciri yang menandakan area pemakaman Desa Jagolano Lama. Di dalamnya juga terdapat beberapa makam tua, antara lain makam Kriye Jagolano pertama, H Ucin. Kini area pemakaman itui sudah jadi hutan belukar karena sudah ditinggalkan sejak tahun 1985. (dik/fad/)

