Lebih dari Sekadar Jembatan, Ampera Adalah Jiwa Palembang yang Tak Pernah Padam
Berdiri megah di atas Sungai Musi, Jembatan Ampera menyimpan kisah tentang tekad, teknologi, dan sejarah bangsa. Saat malam tiba dan lampu menyala, Palembang seakan berbicara lewat siluet ikoniknya. Foto:Alfery/Sumateraekspres.id--
Struktur ini memungkinkan bentang tengah diangkat agar kapal-kapal besar dapat melintas Sungai Musi. Proses pengangkatan memakan waktu sekitar 30 menit.
Namun sejak awal 1970-an, fungsi ini dihentikan karena dinilai menghambat arus lalu lintas darat dan menurunnya intensitas kapal besar yang melintas.
BACA JUGA:Lakukan Konsolidasi Pasar di Kawasan Wisata, Perkuat Merek WinRo
BACA JUGA:Perluas Jejak WinRo, PT Indotirta Sriwijaya Perkasa Mantapkan Pasar di Kawasan Wisata
Dari Infrastruktur Menjadi Ikon Kota
Kini, Jembatan Ampera telah melampaui fungsi awalnya sebagai penghubung wilayah.
Ia menjelma ikon kota, latar favorit fotografi wisata, pusat keramaian acara budaya, hingga simbol visual yang selalu hadir dalam setiap narasi tentang Palembang.
Saat malam tiba, sorotan lampu warna-warni mempertegas siluetnya, memantulkan keindahan di permukaan Sungai Musi.
Lebih dari setengah abad berdiri, Jembatan Ampera tetap setia menjadi saksi bisu perjalanan Palembang.
Ia merekam mimpi yang diperjuangkan, teknologi yang diterapkan, dan kebanggaan yang diwariskan—sebuah mercusuar identitas bagi Wong Kito, dari generasi ke generasi.
BACA JUGA:Apresiasi Sumeks Konsisten Gelar Musi Run, Fauzi Amro: Event Ini Promosikan Wisata Palembang-Sumsel
Jembatan Ampera bukan sekadar penghubung Seberang Ilir dan Ulu. Ia adalah saksi bisu perjuangan, simbol persatuan, dan ikon Palembang yang lahir dari mimpi panjang rakyat.
Dari era Bung Karno hingga kini, Ampera tetap berdiri sebagai denyut nadi Wong Kito.
