Lebih dari Sekadar Jembatan, Ampera Adalah Jiwa Palembang yang Tak Pernah Padam
Berdiri megah di atas Sungai Musi, Jembatan Ampera menyimpan kisah tentang tekad, teknologi, dan sejarah bangsa. Saat malam tiba dan lampu menyala, Palembang seakan berbicara lewat siluet ikoniknya. Foto:Alfery/Sumateraekspres.id--
Bagi Bung Karno, pembangunan infrastruktur monumental di luar Pulau Jawa merupakan simbol pemerataan dan kebanggaan nasional.
Pembangunan pun dimulai pada April 1962, dengan pendanaan yang bersumber dari pampasan perang Jepang pasca-Perang Dunia II.
Tenaga ahli teknik dari Jepang dilibatkan dalam perencanaan dan konstruksi, menghadirkan pendekatan rekayasa yang maju pada masanya.
BACA JUGA:Travel Agent Siap Jadi Ujung Tombak, Endorse Layanan Kesehatan, Dikemas Jadi Paket Wisata
BACA JUGA:1.377 Wisatawan Mancanegara Jelajahi Destinasi Unggulan Sumsel Naik Kereta Api
Dalam semangat penghormatan, jembatan ini awalnya diberi nama Jembatan Bung Karno.
Setelah melalui proses konstruksi intensif selama kurang lebih tiga tahun, jembatan tersebut akhirnya diresmikan pada 10 November 1965 oleh Gubernur Sumatera Selatan Brigjen Abujazid Bustomi.
Ampera: Nama yang Menyimpan Denyut Zaman
Perubahan politik nasional pada 1966 membawa serta perubahan nama.
Jembatan Bung Karno kemudian dikenal sebagai Jembatan Ampera—singkatan dari Amanat Penderitaan Rakyat.
Nama ini mencerminkan semangat era tersebut, sekaligus menjadi pengingat bahwa pembangunan lahir dari harapan dan pengorbanan rakyat.
BACA JUGA:Kunjungan Kajati Sumsel ke Pagaralam, Sinergi Dorong Pariwisata dan Pendidikan Berkelas Nasional
BACA JUGA:Tanaman Melon Rawan Hama, Musim Hujan Jadi Tantangan Agrowisata Pulo Mas Empat Lawang
Keunikan Struktur yang Mendahului Zaman
Dari sisi teknis, Jembatan Ampera merupakan mahakarya rekayasa pada masanya. Jembatan ini memiliki panjang sekitar 1.117 meter dengan lebar kurang lebih 22 meter.
Dua menara setinggi sekitar 63 meter berdiri kokoh, menjadi ciri visual yang mudah dikenali.
Keistimewaan utamanya terletak pada bagian tengah yang dirancang sebagai vertical-lift bridge.
