Seperti Mas Adam yang tetap setia dengan kumisnya, mahasiswa juga harus setia merawat karisma intelektualnya. Bukan untuk pencitraan, tapi sebagai identitas sejati yang melekat padanya. Asosiasi yang kuat bukan dibangun sebagai simbol sesaat, tapi harus konsisten dan bermakna. Mahasiswa seharusnya dapat menjadi wajah dari kampus, tempat di mana pengetahuan diproduksi, disimpan, dan diajarkan.
Saya pikir tulisan ini berada pada momen yang tepat, saat di mana calon mahasiswa baru menunggu perkuliahan tahun ajaran baru dimulai bulan depan. Sebagian dari mereka mungkin baru berganti baju dari siswa ke mahasiswa, tapi sebagian lain melanjutkan status mahasiswanya ke jenjang yang lebih tinggi. Apa pun itu, asosiasi mahasiswa harus direkatkan dengan dunia kampusnya. Memisahkan keduanya, sama seperti memisahkan Mas Adam dengan kumisnya.