Mahasiswa dan Kumis Mas Adam
Mohammad Eko Fitrianto Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya & Alumni DIM FEB – Universitas Gadjah Mada-foto: ist-
SUMATERAEKSPRES.ID - Bayangkan, Mas Adam tanpa kumis? Mungkin bukan Mas Adam. Bahkan, ketika saya sebutkan nama “Mas Adam”, saya yakin Anda langsung mengidentifikasi pada sosok Adam Suseno, suami Mbak Inul Daratista, bukan Adam yang lain, Adam Jordan misalnya.
Begitu kuatnya asosiasi antara Mas Adam dan kumis, hingga kemudian menjadikannya personal branding bagi Adam Suseno. Asosiasi tersebut memudahkan masyarakat untuk mengingat siapa Adam Suseno.
Baiklah, saya membuat tulisan ini karena belakangan sangat sering terpapar dengan sosok Mas Adam, dan tentu saja dengan kumisnya. Kumis bagi Mas Adam adalah identitas yang sulit dipisahkan. Ibarat Jakarta dengan kerak telor, Jogja dengan gudegnya, dan Palembang dengan pempeknya.
Ketika disebut nama Mas Adam, pasti yang terbayang pertama kali adalah kumisnya. Asosiasi semacam ini sebenarnya adalah cara kerja alami dari otak kita.
Sebenarnya, cerita “kumis Mas Adam” ini merupakan pintu masuk bagi saya untuk membahas tentang asosiasi antara mahasiswa dan dunia kampus. Sebagai seorang pengajar, saya kadang miris ketika mahasiswa tidak terasosiasi dengan kehidupan kampus yang seharusnya. Mahasiswa seharusnya selalu dapat diasosiasikan dengan sosok yang cerdas, kritis, dan penuh ide kreatif. Mahasiswa yang tidak seperti itu, ibarat “Mas Adam tanpa kumis”.
BACA JUGA:Sunat Massal Gratis di Prabumulih, Kolaborasi Mahasiswa dan Pemkot Dukung Generasi Sehat
Tidak sedikit mahasiswa yang saya amati justru kehilangan esensi ke-mahasiswaan-nya. Mereka datang ke kampus bukan untuk belajar, tapi sekadar hadir dan absen. Kuliah hanya dianggap untuk menggugurkan kewajiban. Akibatnya apa? Kuliah hanya untuk mengejar nilai yang tercermin pada IPK. Padahal, belajar itu bukan hanya aktivitas transfer pengetahuan, namun lebih dari itu.
Belajar, menurut KBBI, merupakan kata kerja yang berarti: 1) berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, 2) berlatih, dan 3) berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Belajar berarti usaha aktif, bukan pasif. Mahasiswa diharapkan secara mandiri mampu melengkapi pengetahuan yang dibutuhkan. Jika merasa “saya kurang mengerti pada bagian ini”, maka ia akan berusaha dan berlatih untuk melengkapi kekurangan tersebut.
Pengalaman sebagai pengajar, saya sering menemukan mahasiswa tipe “Mas Adam tanpa kumis”. Di kelas, dosen hanya bagaikan ‘matahari yang menerangi bumi’, interaksi satu arah. Sementara, apa yang diberikan bumi ke matahari? Saya dan (mungkin) banyak rekan-rekan dosen lain mengalami hal yang serupa. Ruang kelas akan menjadi sunyi ketika dosen mulai bertanya pada mahasiswa: “Sampai di sini ada pertanyaan?”, “Ada tanggapan?”
Menurut saya, mahasiswa seharusnya bisa menjadi pembelajar mandiri, pemikir kritis, dan pencari solusi. Kehadirannya di ruang kelas bukan hanya fisik, tapi diikuti dengan kehadiran pemikirannya. Mahasiswa juga tidak hanya hadir di ruang kelas, tapi juga hadir dalam berbagai forum diskusi intelektual. Selain itu, ia membaca bukan karena diminta dosen, tapi karena rasa hausnya pada pengetahuan. Ia juga tidak hanya menulis karya ilmiahnya sebagai kewajiban, namun lebih karena ingin berkontribusi pada bidang ilmu.
BACA JUGA:Mahasiswa IMMUBA Siap Jadi Agen Perubahan, Bupati Muba Dorong Peran Aktif dalam Pembangunan Daerah
Belajar, sebagai salah satu pembentuk kualitas mahasiswa, tidak terbatas pada saat jam perkuliahan. Belajar bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja, apalagi dengan adanya kemajuan teknologi informasi. Fasilitas kampus juga bisa dimanfaatkan untuk belajar dan berdiskusi, seperti perpustakaan ataupun ruang belajar.
