Sumatera Ekspres | Baca Koran Sumeks Online | Koran Sumeks Hari ini | SUMATERAEKSPRES.ID - SUMATERAEKSPRES.ID Koran Sumeks Hari ini - Berita Terhangat - Berita Terbaru - Berita Online - Koran Sumatera Ekspres

https://sumateraekspres.bacakoran.co/

Mitsubishi baru

Sang Manajer "Double Winners" Itu Telah Pergi

M Baryadi.-FOTO: IST-

PALEMBANG, SUMATERAEKSPRES.ID –Suasana Kompleks Pesantren Aulia Cendekia, Jalan AMD, Kecamatan Sukarami, Palembang, Selasa (3/3/2026) siang, mendadak berubah hening ketika sirene ambulans meraung sekitar pukul 13.00 WIB. Kendaraan itu membawa jenazah H Muchamad Baryadi menuju peristirahatan terakhirnya.

Udara terasa sejuk, seolah turut mengantar kepergian sosok yang semasa hidup dikenal hangat dan bersahaja. Pemakaman berlangsung khidmat di lingkungan pesantren yang selama ini memiliki kedekatan emosional dengan almarhum.

BACA JUGA:Sumsel Kehilangan Sosok Dermawan, Pemakaman H Halim Ali Dihadiri Gubernur, Pejabat, Ulama, dan Ribuan Pelayat

BACA JUGA:Ir H Alex Noerdin, Sosok Motivator dan Pelobi Ulung yang Dikenang Masyarakat

Pimpinan Pesantren Aulia Cendekia, KH Hendra Zainuddin Al Qodiri, tak kuasa menyembunyikan duka. "Beliau memiliki hubungan yang erat dengan pesantren ini. Banyak membantu, baik secara moril maupun materiel. Kami benar-benar kehilangan," ujarnya lirih.

KH Hendra bahkan menegaskan kesaksiannya tentang pribadi almarhum. "Kita semua bersaksi bahwa Muchamad Baryadi adalah orang baik, baik, baik," tuturnya.

Bagi keluarga besar pesantren, kepergian Baryadi bukan hanya kehilangan donatur, tetapi juga sahabat dan pembimbing.

Baryadi lahir di Sleman pada 15 Juni 1957 dan mengembuskan napas terakhir di RS Hermina Palembang, Senin (2/3/2026) sekitar pukul 21.00 WIB setelah berjuang melawan sakit.

Putra kedua dari tujuh bersaudara pasangan almarhum Widyo Utomo dan Ponijem (93) itu wafat dalam usia 68 tahun 8 bulan, meninggalkan seorang istri serta enam anak yang kini meneruskan jejak kebaikannya.

Dua adiknya, Muchamad Taryono dan Menik, datang dari Yogyakarta untuk mengantar sang kakak ke liang lahat. Taryono mengenang kiprah Baryadi yang tak hanya aktif di Palembang, tetapi juga di kampung halaman.

"Mas itu orangnya loyal. Aktif dalam kegiatan sosial keagamaan, juga olahraga seperti sepak bola dan bola voli," katanya.

Menik pun menambahkan kesaksian serupa. "Beliau dekat dengan masyarakat. Sering ikut penggalangan dana untuk membangun masjid dan jalan desa," ucapnya.

Bagi keluarga, Baryadi adalah sosok pengayom yang tak pernah lelah berbagi waktu dan tenaga. Di dunia sepak bola, nama Baryadi tak bisa dilepaskan dari era kejayaan Sriwijaya FC.

Ia menjadi manajer saat klub berjuluk Laskar Wong Kito itu mencatat sejarah meraih Double Winners pada 2007: juara Liga Indonesia dan Copa Indonesia dalam satu musim.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan