Pengamat Politik Sumsel Peringatkan: Hilangnya Empati Pejabat Bisa Memicu Letupan Sosial
Pengamat politik Sumsel, Amrah Muslimin SE, MM, menegaskan bahwa hilangnya empati pejabat terhadap masyarakat berpotensi menimbulkan gejolak sosial di kemudian hari.-Foto: IST -
PALEMBANG, SUMATERAEKSPRES.ID – Aksi demonstrasi mahasiswa di depan DPRD Sumatera Selatan, Senin (1/9), berlangsung tertib dan damai.
Meski demikian, pesan moral yang disuarakan mahasiswa dinilai tidak boleh diabaikan pemerintah.
Pengamat politik Sumsel, Amrah Muslimin SE, MM, menegaskan bahwa hilangnya empati pejabat terhadap masyarakat berpotensi menimbulkan gejolak sosial di kemudian hari.
Amrah, yang juga mantan Ketua KPU Sumsel, menilai kesenjangan sosial yang semakin lebar antara si kaya dan si miskin menjadi faktor rawan.
BACA JUGA:Bupati Enos Lepas Delegasi OKU Timur ke WICE 2025 di Malaysia, Bidik Prestasi Dunia
“Ketika pejabat justru menunjukkan sikap tanpa empati, masyarakat miskin akan semakin mudah terprovokasi. Ini bahaya besar jika tidak diantisipasi,” ujarnya saat ditemui, Selasa (2/9/2025).
Kesenjangan Sosial dan Privilege Dewan
Amrah menyoroti sejumlah kebijakan DPR dan pemerintah yang dinilai memperlihatkan kurangnya kepekaan.
Misalnya, kenaikan tunjangan anggota dewan yang dianggap wajar oleh pejabat, namun justru memicu kekecewaan publik.
“Hal-hal seperti ini menunjukkan betapa empati pejabat semakin terkikis. Padahal, jika ada kesadaran, keputusan itu bisa ditolak,” tegasnya.
BACA JUGA:Honor Magic V Flip 2: Ponsel Lipat Mewah dengan Kamera 200MP dan Baterai Jumbo 5.500 mAh
BACA JUGA:Empat Pemuda Diamankan Bawa Sajam dan Bom Molotov di Aksi DPRD Sumsel
APBD Belum Maksimal untuk Rakyat
Menurut Amrah, masalah empati tidak hanya di legislatif, tetapi juga birokrasi. Ia mengkritisi alokasi APBD Sumsel yang dinilainya belum sepenuhnya berpihak pada masyarakat.
