Sumatera Ekspres | Baca Koran Sumeks Online | Koran Sumeks Hari ini | SUMATERAEKSPRES.ID - SUMATERAEKSPRES.ID Koran Sumeks Hari ini - Berita Terhangat - Berita Terbaru - Berita Online - Koran Sumatera Ekspres

https://sumateraekspres.bacakoran.co/

Mitsubishi baru

Pasang Perangkap Likat Kuning, Antisipasi Hama Ulat Daun di Tanaman Cabai

SERANGAN HAMA: Kebun cabai milik petani di Desa Muara Penimbung Ulu Kecamatan Indralaya Kabupaten Ogan Ilir dengan luas 2 hektare ditemukan indikasi serangan ulat daun. -FOTO: ANDIKA/SUMEKS-

INDRALAYA, SUMATERAEKSPRES.ID  - Tanaman cabai merupakan komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan banyak dibudidayakan petani di berbagai daerah.

Namun, dalam proses budidayanya, cabai sangat rentan terhadap serangan hama, salah satunya adalah ulat daun. Hama ini sering kali menjadi penyebab utama turunnya produktivitas tanaman cabai. Bahkan dapat menyebabkan gagal panen jika tidak ditangani dengan tepat.

Mengantisipasi hal itu, Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), Desi Dwi Juliana, S.P melakukan monitoring ke lahan kebun cabai di Desa Muara Penimbung Ulu Kecamatan Indralaya Kabupaten Ogan Ilir. ‘’Luas hamparan yaitu 2 ha dengan umur tanaman 50-60 Hst dan varietas yang ditanam yakni cabai merah tangguh. Selain menemukan indikasi serangan hama ulat daun pada tanaman cabai, juga ditemukan musuh alami hama seperti laba-laba," ujar Desi. 

Ulat daun (Plutella xylostella) lebih dikenal sebagai ulat grayak atau diamondback moth. Dalam kondisi tertentu, ulat ini juga menyerang tanaman non-inang seperti cabai, terutama saat populasinya tinggi dan sumber makanan utamanya terbatas.  ‘’Serangan terhadap tanaman cabai menjadi perhatian serius karena dapat menurunkan kualitas dan kuantitas hasil panen secara signifikan,’’ ujarnya.

BACA JUGA:Serangan Hama Putih Palsu Ancam Produksi Padi di Ogan Ilir, Petani Diminta Waspada

BACA JUGA:Cegah Potensi Serangan Hama Penyakit, Lakukan Gernang DPI

Plutella xylostella memiliki siklus hidup yang cepat, terutama di daerah tropis. Telur diletakkan di permukaan daun dan menetas dalam waktu 2–5 hari. Larva yang muncul akan langsung memakan jaringan daun. Menciptakan lubang-lubang kecil hingga menyebabkan daun menjadi transparan atau rusak total. 

Setelah 7–10 hari, larva berubah menjadi pupa dan kemudian menjadi ngengat dewasa yang siap berkembang biak. Dalam satu musim tanam, populasi dapat berkembang sangat cepat, terutama jika tidak dikendalikan.

Meskipun cabai bukan tanaman inang utama, serangan Plutella xylostella tetap merugikan. Larva memakan daun muda dan tua, menghambat proses fotosintesis, dan menyebabkan stres fisiologis pada tanaman. Tanaman yang terserang menunjukkan gejala daun berlubang, menguning, dan pertumbuhan terhambat. Jika serangan terjadi pada fase generatif, produksi buah bisa menurun drastis. "Berdasarkan hasil dari monitoring OPT, yang ditemukan adalah ulat daun dengan luas serangan 0,15 ha dan intensitas serangan 2,1%," terangnya. 

Jika ulat daun menyerang daun pada tanaman cabai, pada bagian bawah daun membuat lubang-lubang kecil sehingga mengganggu kemampuan fotosintesis tanaman.  "Pada serangan berat dapat membuat daun tampak seperti berlubang-lubang dengan hanya menyisakan tulang daun. Ulat biasanya menyerang pada malam hari dan juga seringkali bersembunyi di pangkal tanaman sehingga ulat-ulat ini bisa lolos dari pengamatan petani," jelasnya. 

BACA JUGA:Kendalikan Serangan Hama Tikus di Desa Lubuk Seberuk

BACA JUGA:Petani Jejawi Semprot Padi Varietas Ciliwung dan Ciherang Cegah Hama Wereng

Mengatasi serangan hama tersebut, pihaknya merekomendasikan pemasangan perangkap likat kuning. Kemudian, aplikasi dengan menggunakan APH Beauveria bassiana. Pengendalian dengan menggunakan insektisida berbahan aktif Abamektin.  Lakukan sanitasi lingkungan dan pengamatan intensif untuk memantau perkembangan OPT.

Selain itu, ada beberapa faktor pemicu serangan. Seperti perpindahan hama dari tanaman kubis atau sawi yang telah dipanen atau mati. Ketidakseimbangan ekosistem, seperti hilangnya musuh alami akibat penggunaan insektisida kimia berlebihan. Serta kondisi lingkungan yang mendukung, seperti suhu hangat dan kelembapan tinggi.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan