Tingkatkan Literasi Membaca-Menulis, Dinas Perpustakaan Sumsel Gelar Seminar Bedah Buku Bersama 3 Penulis
SEMINAR : Kepala Dinas Perpustakaan Sumsel dan jajaran bersama tiga penulis yang jadi narasumber dalam seminar bedah buku, Selasa (5/8).-foto: ist-
PALEMBANG, SUMATERAEKSPRES.ID- Dinas Perpustakaan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) terus berupaya menumbukan literasi di masyarakat. Terutama minat baca dan menulis. Salah satunya dengan menggelar seminar bedah buku bersama tiga penulis.
Acara berlangsung selama tiga hari di aula Dinas Perpustakaan Sumsel. Dibuka langsung Kepala Dinas Perpustakaan Provinsi Sumsel, Muhammad Zaki Aslam SIP MSi, kemarin (5/8).
Zaki menjelaskan, ketiga narasumber dalam seminar bedah buku ini yaitu Benny Arnas selaku penulis dan Budayawan, Dr Mulyadi selaku dosen UIN Raden Fatah dan Dr Najmah seorang dosen di Universitas Sriwijaya (Unsri) sekaligus penggiat literasi pendiri Kampung Pandai.
"Melalui kegiatan ini diharapkan akan menumbuhkan literasi di masyarakat Sumsel. Dengan begitu literasi akan semakin meningkat, tidak hanya membaca tapi juga menulis," ujarnya.
Lanjutnya, kegiatan menulis bisa menjadi sebuah skill bahkan bisa menjadi gaya hidup. Zaki mengingatkan, seiring kondisi saat ini dengan kemajuan teknokogi, masyarakat khususnya anak-anak muda jangan hanya mendapat informasi secara setengah-setengah. “Galilah informasi, ilmu secara mendalam dan menyeluruh lewat membaca buku ataupun media lainnya, baik itu media sosial dan elektronik,"sebutnya
BACA JUGA:Konsisten Hadirkan Listrik Andal dan Terjangkau, PLN Raih Apresiasi Literasi Nusantara 2025
BACA JUGA:FIFGROUP Hadirkan Program 'Jam Sosial Mengajar' di Palembang, Dorong Literasi Keuangan Sejak Dini
Lanjutnya, berbagai ilmu sekarang ternyata teori keilmuannya sudah ada sejak dulu dalam Alquran. "Literasi menjadi jendela informasi, ditunjang kemampuan bahasa menjadi penguat," jelas Zaki.
Ketua pelaksana kegiatan sekaligus Kabid Pengembangan Perpustakaan dan Pembudayaan Kegemaran Membaca, Amir Sutisna AKs mengatakan, pengembangan budaya baca dan literasi menjadi penting dalam kehidupan. "Dulu buku disebut jendela dunia. Tapi branding baru, buku adalah kehidupan. Artinya bagi pembacanya dan penulis buku bisa bisa menghidupkan dan memberi motivasi bagi kehidupan sehari-hari," jelasnya.
Bahkan buku sangat penting dalam kehidupan guna menunjang kesejahteraan. Buku juga bisa menginspirasi seseorang. “Selain buku adalah kehidupan, buku juga menjadi teman. Dengan banyak membaca buku, maka jadilah sebuah perpustakaan," ucapnya.
Tentu saja, untuk perpustakaan yang baik harus sesuai standard an terakreditasi. Artinya mengikuti peradaban. "Untuk pengembangan literasi tidak hanya buku yang kita kembangkan .Tapi buku menjadi teman untuk kita mengembangkan diri," tandas Amir.
