Waspada Nih! Tren PHK Berlanjut, Ribuan Pekerja di Sumsel Sudah Dirumahkan
Harga bahan pokok melonjak, pendapatan tak menentu, dan ancaman PHK mengintai banyak sektor. Dalam situasi ini, gaya hidup konsumtif justru bisa memperparah kondisi finansial.-Foto: IST-
SUMSEL, SUMATERAEKSPRES.ID – Berdasarkan data yang tercantum pada laman Satudata Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) semester 1 2025, ada 42.385 pekerja yang menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK).
Jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu (2024), jumlah pekerja yang alami PHK terjadi kenaikan 32,19 persen.
BACA JUGA:Robot Ambil Alih Pekerjaan, PHK Massal Meningkat—Manusia Harus Siap Bertransformasi atau Tertinggal
BACA JUGA:Ekonomi Sulit & PHK Mengintai? Ini Profesi yang Masih Berdiri Tegak!
Sedangkan menurut Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dengan meminjam data BPJS Ketenagakerjaan, pada semester 1 tahun ini sudah ada sekitar 150 ribu pekerja yang kena PHK dan memprediksi tren PHK akan terus berlanjut.
Ada banyak faktor yang mempengaruhi PHK. Selain kondisi ekonomi global, kebijakan dalam negeri juga dirasa banyak yang tidak berpihak kepada dunia usaha. Kondisi ini juga dirasakan di Sumatera Selatan (Sumsel).
Informasi yang berhasil dihimpun koran ini, di kota Palembang saja ada empat pabrik karet yang tutup. Ribuan pekerjanya kehilangan pekerjaan dan pendapatan.
Sejumlah perusahaan lain goyang, ada yang telah mengurangi pekerja. Ada pula yang sudah mengkonsultasikan rencana PHK mereka.
“Mau tidak mau, kondisi perusahaan lagi sulit. Terpaksa kita berencana untuk mengurangi karyawan. Kebijakan pemerintah tidak berpihak ke sektor usaha kami sama sekali,” cetus salah seorang petinggi perusahaan di Palembang, kemarin.
Kondisi yang tidak baik ini telah mempengaruhi pendapatan. Cukup banyak pekerja yang memanfaatkan program menarik dana 10 persen jaminan hari tua (JHT) mereka di BPJS Ketenagakerjaan.
“Terpaksa Mas. Dari kantor belum gajian, untuk bisa tarik dana JHT 10 persen. Untuk makan saja,” kata Hendra, seorang pekerja swasta.
Di Muara Enim, sekitar 600 pekerja di sektor angkutan batu bara terpaksa dirumahkan. Mereka ini pekerja minning kontraktor dan transporter.
Kebijakan ini diambil pascaambruknya Jembatan Muara Lawai, Kecamatan Merapi Timur, Kabupaten Lahat, Minggu 29 Juni 2025 lalu.
"Pasca ambruknya jembatan itu, para pekerja minning kontraktor dan transportir yang berjumlah kurang lebih 600 orang saat ini dirumahkan," ujar Kabid Hubungan Industrial Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Muara Enim, Iwan infandri, kemarin (1/8).
