Lebih dari 10 Ribu Warga Sumsel Idap TBC, Palembang yang Terbanyak Warganya Mengidap TBC
dr H Trisnawarman M Kes SpKKLP SupspFOM-foto: ist-
PALEMBANG, SUMATERAEKSPRES.ID - Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sumsel hingga awal Juli 2025 terdapat sebanyak 10.543 kasus penyakit Tubercolosis (TBC), dari jumlah tersebut Kota Palembang menduduki peringkat tertinggi dengan 3.235 kasus TBC.
Dengan estimasi insiden yang terjadi pada tahun ini ada di angka 9.238 kasus TBC dengan target TC 35,2 persen. Disusul Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dengan jumlah sebanyak 996 kasus TBC, estimasi insiden pada 2025 sebanyak 3.448.kasus TBC dari target TC 28,89 persen.
Serta di peringkat ketiga Kabupaten Muara Enim dengan jumlah sebanyak 815 kasus TBC, estimasi insiden 2.464 kasus dari target TC 33,08 persen.
Ini disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Sumsel, dr H Trisnawarman MKes SpKKLP SupspFOM yang menyebut TBC merupakan penyakit menular yang saat ini menjadi salah prioritas dihadapi oleh Indonesia.
"Salah satu strategi untuk bisa memutuskan angka penularan kasus TB adalah dengan cara menemukan lebih banyak kasus TB terdiagnosis di sekitar kita agar pasien cepat di obati dan tidak menularkan ke orang sekitar," sebut Trisnawarman, kemarin (28/7).
Dia menyebut secara program semakin banyak kasus tb yang di temukan artinya semakin bagus karena akan semakin kecil pula angka penularanya.
"Strategi dalam menemukan kasus tb adalah dengan cara melakukan skrining aktif dan melakukan investigasi kontak serta dengan pemerian TPT terapi pencegahan tuberkulosis," jelasnya.
Sejumlah upaya yang dilakukan untuk menekan angka kasus TB di Sumsel, seperti melakukan investigasi kontak dengan semua pasien TBC terutama anak-anak dan kelompok resiko tinggi, Skrining TBC (Active Case Finding/ACF) di komunitas padat penduduk, lapas/rutan, panti sosial, dan kelompok rentan (ODHA, penderita diabetes dan pekerja).
"Dengan mengintegrasikan layanan TBC dengan program lainnya seperti HIV, gizi dan diabetes, peningkatan kapasitas dan kompetensi tenaga kesehatan dalam diagnosis dan tata laksana TBC," sebutnya.
Selain itu dengan Kampanye, Komunikasi dan Edukasi tentang gejala TBC, pentingnya deteksi dini dan kepatuhan dalam pengobatan, pelibatan mantan penderita TBC, kader masyarakat atau duta sebagai pendamping pasien.
