Lebih Dalam dari Sungai Musi: Kisah Tersembunyi di Balik Nama-Nama Lorong Ikonik Palembang.
Di Balik Nama Unik Lorong Palembang: Jejak Sejarah dari Penjual Air, Stigma Kolonial, hingga Misteri Sang Gajah-Foto: sumateraekspres.id-
PALEMBANG, SUMATERAEKSPRES.ID – Di balik hiruk pikuk modernitas Kota Palembang, tersembunyi sebuah peta sejarah yang tak tertulis di buku-buku pelajaran.
Peta itu terukir pada plang-plang nama jalan dan lorong sempit, dari Lorong Basah yang ikonik hingga Lorong Gajah yang diselimuti misteri.
Nama-nama ini bukan sekadar penanda alamat, melainkan kapsul waktu yang menyimpan kisah tentang profesi, stigma sosial, dan denyut nadi kehidupan masyarakat Palembang tempo dulu.
BACA JUGA:Kebakaran Dahsyat Lahap Satu Rumah di Lorong Pelita Sako, Kerugian Capai Rp80 Juta
BACA JUGA:Hercules Rosario Marshal, Dari Lorong Tanah Abang ke Panggung Kekuasaan
Lorong Basah: Antara Tumpahan Air dan Noda Masa Lalu
Salah satu toponimi paling legendaris di Palembang adalah Lorong Basah, yang berlokasi di jantung keramaian Pasar 16 Ilir.
Meski jalan utamanya kini menyandang nama pahlawan Sentot Alibasyah, nama "Basah" justru memiliki akar cerita yang jauh lebih membumi.
Berdasarkan data dari berbagai sumber, setidaknya ada dua narasi kuat yang melatarbelakangi penamaan ini.
BACA JUGA:Warga Kertapati Geger, Pria Asal Prabumulih Ditemukan Tewas dengan Luka Lebam di Lorong
Versi pertama, yang paling mengakar di memori kolektif warga, lahir dari aktivitas ekonomi sederhana: para penjual air.
Jauh sebelum layanan air bersih merata, banyak warga, khususnya dari etnis Tionghoa, menggantungkan hidup dengan menjual air yang diambil langsung dari Sungai Musi.
Mereka memikul air dalam tong dan ember, melewati lorong ini menuju perkampungan di sekitar Masjid Lama. Tumpahan air di sepanjang perjalanan membuat lorong ini selalu becek dan basah.
Dari pemandangan sehari-hari inilah nama Lorong Basah lahir dan melekat.
