Lestarikan Tradisi Pantauan dan Sanjo
PANTAUAN & SANJO: Tradisi pantauan dan sanjo yang semakin mempererat tali silaturahmu yang patut dijaga kelestariannya. FOTO: AGUSTRIAWAN/GITE/SUMEKS--
SUMSEL, SUMATERAEKSPRES.ID - Kabupaten Lahat, yang terletak di Sumatera Selatan, dikenal dengan keberagaman budaya dan tradisi yang masih lestari hingga kini.
Salah satu tradisi yang menjadi ciri khas daerah ini adalah Pantauan Lahat, sebuah tradisi yang mengandung nilai kebersamaan, silaturahmi, dan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Tradisi ini memiliki makna yang dalam, terutama pada saat perayaan Idulfitri.
BACA JUGA:Masjid Al Falah Konon Dibangun Abad Ke-13
BACA JUGA:Amalan Jelang Lebaran Agar Rezeki Mengalir Deras: Sedekah, Silaturahmi, dan Doa Mustajab
Usai melaksanakan salat ied, warga Kabupaten Lahat akan melanjutkan perayaan dengan membawa hidangan ke masjid untuk makan bersama.
Momen ini tidak hanya digunakan untuk berbagi makanan, tetapi juga sebagai kesempatan untuk saling bermaaf-maafan. Setelah itu, warga akan melakukan pantauan, yaitu mengunjungi rumah-rumah tetangga untuk menjalin silaturahmi dan mempererat hubungan antarwarga.
Menurut Herman (37), seorang warga Gunung Gajah Lahat, makanan yang disajikan dalam tradisi ini sangat bervariasi. Selain kue basah dan kue kering, ada juga sajian makanan berat seperti rendang, opor, tapai ketan, dan sambal bucis. Tradisi ini masih cukup hidup di desa-desa, meskipun di perkotaan sudah mulai jarang ditemui.
Mario Andramatik, seorang pemerhati budaya Lahat menjelaskan, tradisi pantauan merupakan bagian dari warisan budaya tak benda Kabupaten Lahat yang harus dilestarikan.
Tradisi ini sebenarnya tidak hanya dilakukan saat Lebaran, tetapi juga pada acara-acara besar lainnya, seperti resepsi pernikahan dan musibah kematian. Seiring berjalannya waktu, tradisi pantauan juga mulai dilaksanakan di daerah perkotaan, salah satunya di Kelurahan Bandar Jaya.
Tradisi pantauan memiliki banyak makna, mulai dari mempererat hubungan antarwarga hingga menjadi ajang untuk saling berbagi dan berdoa bersama. Oleh karena itu, tradisi ini sangat penting untuk dilestarikan agar tidak hilang ditelan zaman.
Selain itu, dengan melestarikan tradisi pantauan, kita juga dapat memperkenalkan budaya Kabupaten Lahat kepada generasi muda dan dunia luar.
Sebagai bagian dari warisan budaya tak benda, tradisi pantauan perlu mendapatkan perhatian lebih untuk didaftarkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Nasional.
Dengan pengakuan ini, diharapkan tradisi yang penuh makna ini bisa terus hidup dan berkembang, memberikan nilai positif bagi masyarakat dan generasi yang akan datang.
Seperti daerah lainnya, Kabupaten Muara Enim juga memiliki tradisi setiap lebaran yang hingga kini terus dijaga kelestariannya. Salah satunya sanjo, seperti daerah lain di Sumsel.
