Menjaga Tari Melayu di Tengah Modernisasi
TARI MELAYU : Guru seni memeragakan Tari Melayu dalam rangkaian kegiatan Sepekan Workshop Bersama Yayasan Dinda Bestari di Universitas PGRI Palembang. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam upaya pelestarian kebudayaan Sumsel.-FOTO: IBNU HOLDUN/SUMEKS-
PALEMBANG, SUMATERAEKSPRES.ID – Sebanyak 140 pelajar dan guru seni dengan penuh semangat mengikuti workshop Tari Melayu dalam rangkaian kegiatan Sepekan Workshop Bersama Yayasan Dinda Bestari di Universitas PGRI Palembang.
Kegiatan yang berlangsung di Laboratorium Terpadu dan Teater Mini ini menjadi momentum penting dalam upaya pelestarian kebudayaan Sumsel.
BACA JUGA:Batik Khas Muara Enim, Keanekaragaman Motif dan Upaya Pelestarian Budaya Lokal
BACA JUGA:Eksplorasi Bukit Siguntang: Peninggalan Bersejarah Kerajaan Sriwijaya dan Asal Usul Orang Melayu
Nurdin, pendiri Yayasan Seni Dinda Bestari, menegaskan masyarakat Sumatera Selatan merupakan bagian dari rumpun bangsa Melayu, sehingga kesenian Tari Melayu perlu terus dijaga dan dikembangkan agar tetap lestari di tengah modernisasi.
“Pada workshop ini, peserta mendapatkan pemahaman mendalam tentang prinsip dan teknik dasar Tari Melayu. Selain itu, mereka juga dikenalkan pada norma serta batasan dalam tari tradisional Melayu yang sarat akan keindahan dan makna filosofis,” jelas Nurdin yang juga menjadi pemateri dalam kegiatan tersebut.
Senada dengan Nurdin, Imansyah, Ketua Komunitas Seniman Tari Sumsel yang turut menjadi tutor, menyoroti bahwa meskipun Sumsel termasuk rumpun Melayu, namun memiliki ciri khas tersendiri dalam seni dan budayanya.
“Melayu Sumatera Selatan memiliki keunikan yang membedakannya dari daerah Melayu lain. Banyak orang yang menganggap semua musik dan Tari Melayu itu sama, padahal terdapat perbedaan yang cukup signifikan,” ujar Imansyah.
Dalam pengalamannya sebagai juri di berbagai lomba tari di Palembang, Imansyah mengamati bahwa masih banyak peserta menggunakan lagu-lagu Melayu dari luar daerah, seperti dari Malaysia, tanpa memahami perbedaan karakteristik musik Melayu Palembang.
“Sumatera Selatan sebenarnya kaya akan karya musik yang khas dan berakar kuat pada budaya lokal. Namun sayangnya banyak yang malas mencari referensi atau bahkan tidak mengetahui perbedaannya. Inilah mengapa workshop ini sangat penting, untuk membangun kesadaran dan pemahaman yang lebih baik terhadap budaya sendiri,” tambahnya.
Salah satu peserta, Arum, siswi kelas 8 SMP Negeri 8 Palembang mengungkapkan harapannya agar kegiatan ini bisa diadakan secara rutin dengan cakupan yang lebih luas.
“Kalau bisa ada workshop seperti ini setiap bulan dengan peserta lebih banyak lagi, bahkan kalau memungkinkan diadakan langsung di sekolah-sekolah,” ujarnya dengan antusias.
BACA JUGA:Keris Siginjai: Senjata Tradisional Jambi dan Kaitannya dengan Peradaban Melayu
BACA JUGA:Filosofi Keris Melayu Sumatera: Simbol Kejujuran dan Kesiagaan
