Sweet But Deadly: Sugar The Silent Killer
Apt.Rafiqah Nur Viviani, S.Farm.,M.S.Farm; Novalia Amirah; Dewi Agustina; Rania Hafizah; Shalika Khairunisa; Intan Rezky; Mayzaluna Azzahra-Foto: ist-
Oleh: Apt.Rafiqah Nur Viviani, S.Farm.,M.S.Farm; Novalia Amirah; Dewi Agustina; Rania Hafizah; Shalika Khairunisa; Intan Rezky; Mayzaluna Azzahra
SUMATERAEKSPRES.ID - Tiap butir gula mungkin tampak tak berbahaya: putih, halus, dan manis di lidah. Tapi setiap kali kita menambahkan satu sendok ke dalam secangkir kopi, sebenarnya kita sedang menabung sedikit risiko untuk masa depan.
Gula memang membuat hidup terasa lebih nikmat, namun di balik manisnya tersimpan ancaman yang perlahan tapi pasti menggerogoti kesehatan.
Setiap tahunnya, konsumsi gula berlebih menjadi salah satu penyebab kematian tidak langsung yang cukup tinggi di dunia. Berdasarkan penelitian dari Harvard School of Public Health (2015), konsumsi minuman manis diperkirakan menyebabkan sekitar 180.000 kematian per tahun di seluruh dunia. Terdiri dari 133.000 kematian akibat diabetes, 44.000 akibat penyakit jantung, dan sekitar 6.000 akibat kanker yang berkaitan dengan konsumsi gula berlebih.
Sementara itu, data dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa penyakit diabetes sendiri menyumbang sekitar 1,6 juta kematian global setiap tahunnya. Di Indonesia, beban kematian akibat gula juga terus meningkat. Menurut data World Life Expectancy (2020) dan penelitian yang dimuat di National Library of Medicine (2023), terdapat sekitar 100.000 hingga 110.000 jiwa yang meninggal setiap tahun akibat diabetes dan komplikasi yang berkaitan dengan kadar gula darah tinggi.
Angka tersebut menunjukkan bahwa meskipun gula bukan penyebab kematian langsung, dampaknya terhadap munculnya penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, dan gangguan metabolik menjadikannya salah satu ancaman kesehatan terbesar di dunia maupun di Indonesia.
BACA JUGA:Indonesia Resmi Jadi Pusat Pembelajaran Perawat dan Bidan se-Asia Pasifik, Ditetapkan WHO
BACA JUGA:Ini Batasan Konsumsi Gula Pada Anak Sesuai Rekomendasi WHO
Gula memang tampak polos, putih, halus, dan manis. Namun di balik rasanya yang menggoda, tersimpan cerita panjang tentang bagaimana zat kecil ini bisa menjadi “pemain utama” dalam kesehatan manusia. Tubuh kita sesungguhnya diciptakan dengan sistem canggih untuk mengelola gula. Begitu makanan manis masuk ke mulut, tubuh langsung bersiaga. Karbohidrat diubah menjadi glukosa (C₆H₁₂O₆), bahan bakar utama yang menggerakkan setiap sel, otot, bahkan pikiran kita.
Pankreas, sang penjaga keseimbangan, kemudian melepaskan insulin, hormon yang ibarat kunci ajaib membuka pintu sel agar glukosa bisa masuk dan diubah menjadi energi. Namun, apa jadinya jika kunci itu dipaksa bekerja tanpa henti setiap hari? Lama-kelamaan, sistem ini kelelahan. Itulah awal mula resistensi insulin, ketika sel-sel tubuh mulai menolak “perintah” insulin. Gula menumpuk dalam darah, pankreas bekerja keras, dan akhirnya menyerah.
Dari sinilah perjalanan menuju diabetes melitus tipe 2 dimulai. Dampak kelebihan gula pun tak berhenti di situ. Tubuh menyimpan kelebihan glukosa di hati dan otot, lalu mengubah sisanya menjadi lemak. Pelan tapi pasti, timbunan lemak di perut menjadi bom waktu bagi metabolisme. Bukan hanya soal penampilan, melainkan ancaman nyata bagi jantung, pembuluh darah, dan hati. Ironisnya, musuh ini sering datang diam-diam. Ia bersembunyi di balik saus, roti, minuman energi, bahkan makanan yang diklaim “sehat”, contohnya energy bar atau protein bar yang mengandung 15–30 gram gula per batang.
Seperti dikatakan pepatah, “yang manis tak selalu menyehatkan”. Satu sendok gula tambahan bisa menjadi awal dari ketidakseimbangan besar dalam tubuh. Konsumsi gula berlebih terbukti memperburuk kadar lemak darah, menurunkan kolesterol baik (HDL), dan meningkatkan risiko penyakit jantung, si pembunuh senyap nomor satu di dunia. Tak hanya tubuh yang jadi korban, gula juga memengaruhi otak dan emosi. Saat kita menikmati sesuatu yang manis, otak melepaskan dopamin dan opioid, hormon kebahagiaan yang memberi rasa nyaman sesaat.
BACA JUGA:WHO Sebut Lebih dari 8 Juta Orang Terjangkit TBC di 2023
BACA JUGA:Resmi, WHO Menyetujui Tes 'PCR' Pertama Mpox Yang Beri Hasil Cepat