Hari Pendidikan Nasional: Antara Harapan dan Tantangan
Ramlan Effendi,M.Pd (Guru Matematika, Kepala SMPN 4 Kikim Selatan Lahat)-foto: ist-
SUMATERAEKSPRES.ID - Awal Bulan Mei menghadirkan dua peringatan penting yang seharusnya membuka kesadaran kolektif kita: Hari Buruh Internasional pada 1 Mei dan Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei. Hari Buruh bermula karena aksi mogok masal pekerja di Amerika Serikat pada tanggal 1 Mei 1886, yang menuntut pengurangan jam kerja dari 12 – 18 jam menjadi 8 jam per hari.
Sedangkan peringatan Hari Pendidikan Nasional pada tanggal 2 Mei merupakan sebuah penghargaan atas jasa Ki Hajar Dewantara dalam merintis dan mengembangkan pendidikan bagi rakyat biasa pada masa penjajahan. Ki Hajar Dewantara meletakkan cita-cita pendidikan sebagai jalan menuju kemandirian rakyat, bukan sekadar alat untuk memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja.
Dalam perjalanan panjangnya, sistem pendidikan nasional menghadapi berbagai tantangan yang tak sederhana. Di sisi lain, secercah harapan tetap membayang, menandai usaha-usaha nyata yang terus bergulir untuk memperbaiki kondisi tersebut.
Harapan yang Terus Menyala
Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat langkah-langkah penting yang menunjukkan komitmen bangsa ini terhadap perbaikan pendidikan. Program Merdeka Belajar, misalnya, mencoba menggeser paradigma pendidikan dari sekadar memenuhi standar administratif menuju pengembangan kompetensi yang lebih substantif.
Sekolah-sekolah kini mulai diberi ruang untuk berinovasi. Guru didorong untuk menjadi fasilitator pembelajaran, bukan sekadar pengajar pasif. Siswa diberi peran dan kesempatan untuk mengembangkan keterampilannya. Kurikulum dikembangkan untuk lebih adaptif terhadap kebutuhan zaman, termasuk literasi digital dan kecakapan abad ke-21. Ini merupakan langkah progresif di tengah tantangan globalisasi dan revolusi industri 4.0. Program makan bergizi gratis agar siswa menjadi sehat dan kuat disambut masyarakat dengan suka cita.
BACA JUGA:Guru Wajib Baca! Ini 4 Hadiah yang Bakal Diberikan Prabowo Subianto Pada Hardiknas 2 Mei 2025 Nanti
Selain itu, perhatian terhadap pendidikan inklusif mulai meningkat. Kesadaran bahwa setiap anak, tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, atau kondisi fisik, berhak memperoleh pendidikan bermutu menjadi agenda penting. Di banyak daerah, komunitas pendidikan lokal menggagas program-program kreatif untuk menjangkau anak-anak marjinal yang selama ini terpinggirkan dari sistem pendidikan formal.
Tak bisa dipungkiri, pandemi COVID-19 yang lalu juga memberi pelajaran berharga. Meskipun banyak yang mengalami kesulitan, krisis ini mempercepat adopsi teknologi dalam pembelajaran. Guru dan siswa dipaksa beradaptasi dengan metode baru, lebih akrab dengan teknologi digital, serta membuka peluang bagi terciptanya model pembelajaran hibrid di masa depan.
Tantangan yang Belum Usai
Di balik harapan itu, realitas pendidikan menyimpan banyak pekerjaan rumah. Kesenjangan kualitas pendidikan antar daerah masih menganga. Di kota besar, akses terhadap pendidikan bermutu relatif lebih mudah dan murah, sedangkan di daerah tertinggal, banyak anak yang masih harus berjuang keras hanya untuk tiba di sekolah.
Masalah lain yang mengemuka adalah rendahnya kompetensi literasi dan numerasi siswa yang telah menjadi sorotan dalam berbagai survei internasional, salah satunya Programme for International Student Assessment (PISA). Hasil terbaru menunjukkan bahwa kemampuan membaca, memahami informasi, serta kemampuan berhitung dan memecahkan masalah matematis siswa Indonesia jauh tertinggal dibandingkan negara lain. Hal ini bukan semata-mata disebabkan oleh materi kurikulum yang tidak relevan, melainkan mengindikasikan adanya persoalan mendasar dalam proses pembelajaran sehari-hari.
BACA JUGA:Hardiknas 2024: Perjalanan 5 Tahun Merdeka Belajar Menuju Generasi Emas Indonesia
