Menjemput Kesalehan Ekologis di Hari Kemenangan
Andiwijaya SSi MSi Ketua Bank Sampah Amanah Palembang /Anggota HIPMI Syariah Sumsel -Foto : Ist-
SUMATERAEKSPRES.ID - Ramadan dan Idulfitri seringkali dirayakan sebagai puncak spiritualitas, namun di balik tabir kesucian tersebut, terselip sebuah paradoks yang menyesakkan: ledakan sampah.
Tulisan ini menggugat fenomena "ritualisme sampah" yang selalu membayangi hari kemenangan, di mana ibadah Ramadan selama satu bulan justru kerap berakhir dengan konsumsi tak terkendali dan gunungan limbah di TPA.
Iklan Google/Link Sponsor
Melalui perspektif “Kesalehan Ekologis, penulis mengajak pembaca untuk mendefinisikan ulang makna fitrah tidak sekadar sebagai mengurung dosa secara vertikal, tetapi sebagai tanggung jawab sirkular terhadap bumi. Mengapa kemurnian jiwa harus dikhianati oleh jejak plastik dan sisa makanan yang mubazir?
Dengan memperkenalkan konsep "Ijtihad Ekologis",tulisan ini menawarkan jalan keluar kreatif untuk merombak tradisi Lebaran yang destruktif menjadi sebuah revolusi gaya hidup yang sadar lingkungan.Ini bukan sekedar opini tentang pengelolaan sampah, melainkan sebuah manifesto bagi mereka yang percaya bahwa kemenangan hakiki hanya bisa diraih saat bumi ikut tersenyum menyambut kembalinya manusia sebagai penjaga alam (khalifah fil ardh). Temukan bagaimana menjadikan pengelolaan sampah sebagai "pakaian baru" yang paling mulia di hari raya dalam ulasan mendalam ini.
BACA JUGA: Safari Ramadan PTBA Jadi Jembatan Kebaikan, Pererat Silaturahmi, Perkuat Kebersamaan
BACA JUGA:PLN Pastikan Listrik dan Layanan SPKLU Andal, Posko Nasional Ramadan dan Idulfitri 2026 Dibuka
Ramadan, yang secara hakiki merupakan madrasah ruhani untuk menyemai benih pengendalian diri (self-restraint) serta menumbuhkan empati terhadap umat yang membutuhkan, kini sering terjebak dalam dekadensi makna yang ironis. Alih-alih menjadi momentum kontemplasi kemudahan, bulan suci ini justru kerap mengalami pergeseran wajah menjadi puncak selebrasi konsumerisme yang tak terkendali.
Di balik tirai kesalihan ritual, meja-meja ceramah seringkali sesak oleh aneka hidangan yang jauh melampaui batas kebutuhan biologis manusia, menciptakan sebuah anomali, bulan yang diperintahkan untuk menjinakkan nafsu justru menjadi periode di mana nafsu konsumsi mencapai titik kulminasinya.
Kajian mengenai kegagalan pengendalian diri ini terkonfirmasi secara gamblang melalui visualisasi tumpukan sisa makanan dan gunungan kemasan plastik yang membludak di sudut-sudut kota. Kita sedang menghadapi karakteristik sosial yang tajam sekaligus getir, di mana durasi menahan lapar di siang hari dibayar tuntas dengan produksi sampah yang volumenya bahkan melampaui bulan-bulan di luar Ramadan.
Fenomena ini bukanlah sekadar asumsi sosiologis yang mengawang, melainkan realitas materi yang sangat pahit dan terekam jelas pada beban kerja di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Secara statistik, data di berbagai kota besar di Indonesia secara konsisten menunjukkan anomali yang mencemaskan; volume sampah rumah tangga kerap melonjak drastis, menyentuh angka 10% hingga 20% lebih tinggi pada rentang waktu menjelang hingga sesudah Idulfitri. Ironisnya, sebagian besar tumpukan ini adalah sampah organik atau sisa makanan yang seharusnya bisa dicegah sejak dari meja makan.
BACA JUGA:Ramadan Run 50 Meter Piala Kota Palembang Pecah! Sprint Malam Hari Bakar Semangat Seribu Pelari
Sampah-sampah sisa ekosistem ini, ketika pembusukan secara anaerobik di TPA, tidak hanya menjadi polusi visual dan beban estetika kota, tetapi juga menjadi “bom waktu” ekologis karena terlepasnya gas metana (CH4) ke atmosfer—sebuah rumah kaca gas yang kekuatannya dalam menangkap panas jauh lebih destruktif dibandingkan karbon dioksida (CO2), sehingga secara langsung mempercepat laju krisis iklim global.
Dari Ritual Vertikal ke Tanggung Jawab Sirkular
