Program Makan Bergizi Gratis Perkuat Ketahanan Gizi Nasional
DAPUR SPPG: Salah satu dapur Stasiun Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kelurahan 16 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu (SU-II Kota Palembang yang menyiapkan makanan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) beberapa waktu lalu. -Foto: kris samiaji/sumeks -
Program ini dirancang untuk menjangkau kelompok sasaran utama, termasuk balita, ibu hamil, ibu menyusui, anak usia sekolah, dan remaja.
Leni menjelaskan bahwa pemenuhan gizi melalui satu kali makan utama setiap hari dapat meningkatkan akses kelompok rentan terhadap makanan bergizi yang layak.
Jika dilaksanakan sesuai standar, MBG berpotensi meningkatkan status gizi masyarakat secara signifikan.
Pemerintah memandang monitoring dan evaluasi berkelanjutan sebagai bagian penting dari penguatan program.
Dengan jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi yang terus bertambah, pengawasan terhadap standar gizi, waktu distribusi, dan kualitas layanan menjadi kunci agar tujuan program tercapai secara optimal.
Leni menekankan bahwa pemenuhan gizi yang baik berkontribusi besar terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan kemampuan belajar anak.
Anak dengan status gizi baik memiliki kesiapan yang lebih optimal untuk mengikuti proses pembelajaran dan membangun kemandirian di masa depan.
Leni juga menyoroti pentingnya pemenuhan gizi pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan sebagai fase krusial perkembangan otak.
Pemerintah menempatkan periode ini sebagai prioritas karena kekurangan gizi pada fase awal dapat berdampak jangka panjang terhadap kemampuan kognitif dan kualitas hidup.
Dengan pendekatan yang terintegrasi antara gizi, kesehatan, dan ekonomi, Program Makan Bergizi Gratis diposisikan sebagai instrumen strategis negara.
BACA JUGA:MBG dan Petani Lokal:Strategi Pemerintah Wujudkan Gizi Berkeadilan
BACA JUGA:Perluasan MBG Bukti Negara Hadir Jaga Gizi Kelompok Lansia
Pemerintah tidak hanya mengejar hasil jangka pendek, tetapi menanamkan investasi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan gizi nasional dan kualitas generasi penerus bangsa.
Oleh: Fajar Adi Nugroho
)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute
