Program Makan Bergizi Gratis Perkuat Ketahanan Gizi Nasional
DAPUR SPPG: Salah satu dapur Stasiun Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kelurahan 16 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu (SU-II Kota Palembang yang menyiapkan makanan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) beberapa waktu lalu. -Foto: kris samiaji/sumeks -
SUMATERAEKSPRES.ID - Program Makan Bergizi Gratis menjadi salah satu kebijakan strategis pemerintah dalam memperkuat ketahanan gizi nasional sekaligus menjalankan amanat konstitusi.
Program ini dirancang untuk memastikan negara hadir memenuhi hak dasar rakyat, khususnya generasi muda, agar memperoleh asupan gizi yang layak dan berkelanjutan.
BACA JUGA:Superhero Bagi MBG, Siswa SD Prabumulih Antusias
BACA JUGA:Menu Enak, Siswa Lahap, Hari Pertama Penyaluran MBG Pascalibur Semester Ganjil
Landasan normatif program ini sejalan dengan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang menegaskan kewajiban negara dalam mewujudkan kesejahteraan umum.
Pemerintah memandang pemenuhan gizi sebagai bagian tak terpisahkan dari pembangunan manusia, karena kualitas sumber daya manusia ditentukan sejak fase awal kehidupan.
MBG difokuskan pada pemenuhan kebutuhan gizi peserta didik agar tumbuh dan berkembang secara optimal.
Dengan kondisi fisik yang sehat, anak-anak diharapkan memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik, konsentrasi belajar yang meningkat, serta risiko stunting dan gangguan kesehatan lain yang dapat ditekan sejak dini.
Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Imamudin Yuliadi, menilai bahwa MBG memiliki peruntukan yang jelas dan berbeda dari anggaran pendidikan maupun gaji guru.
Pemerintah merancangnya sebagai kebijakan khusus di bidang gizi, meskipun dampaknya turut memperkuat kualitas pendidikan melalui peningkatan kondisi fisik dan kesehatan siswa.
Imamudin memandang keberhasilan MBG sangat ditentukan oleh kesiapan ekosistem pendukung, terutama di tingkat daerah.
Pemerintah daerah dan masyarakat memiliki peran penting dalam memastikan rantai pasok bahan pangan berjalan stabil, mulai dari beras, telur, sayuran, hingga produk peternakan dan perikanan.
Ketika kebutuhan MBG dipenuhi dari produksi lokal, program ini tidak hanya berdampak pada perbaikan status gizi, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi daerah.
Pemerintah menilai pendekatan ini sebagai strategi ganda yang memperkuat ketahanan gizi sekaligus ketahanan ekonomi lokal.
