Membaca Arah Diplomasi Keamanan Indonesia–Australia di Era Presiden Prabowo
Muhammad Daffa Al Aslam, Mahasiswa Pascasarjana Kajian Wilayah Eropa, Universitas Indonesia-Foto : Ist-
Penulis menyaksikan pidato Presiden Prabowo Subianto di Gedung DPR RI. (Dokumentasi pribadi) Gelombang perubahan geopolitik di Indo–Pasifik semakin memengaruhi pilihan kebijakan negara negara di kawasan.
Di tengah dinamika yang tidak menentu, mulai dari rivalitas Amerika Serikat Tiongkok, manuver kekuatan menengah, hingga kompetisi pengaruh di Pasifik Selatan, Indonesia kini mengambil langkah strategis dengan tujuan memperkuat hubungan keamanan dengan Australia.
Dapat dilihat adanya perubahan ini juga menandai pergeseran fokus global, yang sebelumnya perhatian dan persaingan banyak terfokus di barat, kini titik itu mulai bergeser dan berfokus ke kawasan Indo-Pasifik. Pada 12 November 2025, Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengumumkan secara resmi bahwa kedua negara telah menyelesaikan kesepakatan substansial atas Treaty on Common Security.
Pengumuman ini bukan sekadar kelanjutan dari Lombok Treaty (2006) dan Defence Cooperation Agreement (2024), tetapi menandai pendalaman hubungan keamanan yang bersifat trust-based.
Momen ini sekaligus menegaskan posisi strategis Indonesia sebagai aktor penting dalam arsitektur keamanan kawasan.
BACA JUGA:Pidato di Sidang Umum PBB, Presiden Prabowo Mengulang Sejarah Perjuangan Diplomasi Prof Sumitro
BACA JUGA:Bukan Sekadar Dana LPDP dan Diplomasi Pendidikan Indonesia di Dunia
Kedua negara menyebut perjanjian ini sebagai versi terbaru dari Agreement on Maintaining Security tahun 1995 yang pernah ditandatangani pada era Presiden Soeharto, tetapi kini dengan cakupan yang lebih luas: konsultasi rutin di tingkat pemimpin, mekanisme respons bersama jika salah satu pihak menghadapi ancaman, serta penguatan kerja sama strategis sesuai prioritas masing-masing negara.
Dengan kata lain, kedua negara pada perjanjian ini mengakui bahwa keamanan regional mereka saling terkait satu sama lain. Dimensi Baru Australia: Dari Canberra ke Port Moresby hingga Jakarta Langkah Australia dalam usaha memperluas jejaring keamanannya tidak berhenti pada kerja sama dengan Indonesia.
Sebelum pada akhirnya menuntaskan perjanjian dengan Indonesia, Canberra sebelumnya telah menandatangani Pukpuk Treaty dengan Papua Nugini pada Oktober 2025, yang mana isi perjanjiannya menandai peningkatan signifikan dalam arsitektur pertahanan Pasifik.
Dalam Pukpuk Treaty salah satu isi perjanjiannya menyatakan bahwa serangan terhadap salah satu pihak dianggap sebagai ancaman bagi keamanan keduanya, sehingga mewajibkan Australia dan PNG untuk merespons bahaya tersebut secara bersama, sangat kental dengan Pasal 5 NATO.
BACA JUGA:Barat Yakini Netanyahu Tak Terjangkau ICC, Peran Diplomasi AS Kunci Utama Keberpihakan
BACA JUGA:Iran Membuka Pintu Diplomasi dan Kembangkan Nuklir sebagai Energi Dalam Negeri
Tidak berhenti di situ saja Pukpuk Treaty juga ditujukan memperkuat kolaborasi militer dalam bentuk latihan gabungan, dan peningkatan kapasitas operasional PNG. Bahkan, warga negara PNG diberikan peluang dapat bergabung ke dalam Angkatan Pertahanan Australia melalui proses perekrutan.
