Sumatera Ekspres | Baca Koran Sumeks Online | Koran Sumeks Hari ini | SUMATERAEKSPRES.ID - SUMATERAEKSPRES.ID Koran Sumeks Hari ini - Berita Terhangat - Berita Terbaru - Berita Online - Koran Sumatera Ekspres

https://sumateraekspres.bacakoran.co/

Mitsubishi baru

Fenomena WC Cemplung di Palembang: Antara Kebiasaan, Kemiskinan, dan Ketimpangan Sanitasi

Fenomena WC Cemplung di Palembang: Antara Kebiasaan, Kemiskinan, dan Ketimpangan Sanitasi-Foto: Budiman - Sumateraekspres.id-

PAEMBANG, SUMATERAEKSPRES.ID – Di tengah geliat pembangunan kota, masih banyak warga Palembang, khususnya yang bermukim di bantaran Sungai Musi dan anak sungainya, yang bergantung pada fasilitas sanitasi darurat yang dikenal dengan sebutan WC Cemplung.

Jamban tradisional ini bukan hanya mencerminkan keterbatasan infrastruktur, tetapi juga menyoroti persoalan klasik: kemiskinan, keterbatasan lahan, dan pola hidup yang telah berlangsung turun-temurun.

WC Cemplung adalah bangunan sederhana berbahan kayu yang berdiri di atas aliran sungai.

Ukurannya sempit, sekitar 80 x 80 cm, dengan perlindungan seadanya—atap dari terpal, pintu dari karung bekas.

BACA JUGA:Rocky e-Smart Hybrid Jadi Primadona Daihatsu di GIIAS 2025, Catat Penjualan Tertinggi

BACA JUGA:PT Indofood dan PAMA Buka Lowongan Kerja untuk Lulusan SMA hingga S1, Ini Formasi dan Persyaratannya

Limbah manusia langsung dibuang ke sungai tanpa pengolahan, menyatu dengan aliran yang juga digunakan untuk mandi dan mencuci oleh sebagian warga.

Dari hasil pantauan di lapangan, WC Cemplung masih lazim ditemukan di berbagai kecamatan, seperti Seberang Ulu I, Jakabaring, dan Kertapati.

Keberadaan fasilitas ini menjadi solusi darurat bagi warga yang tidak memiliki toilet pribadi, sebagian karena mereka tinggal di atas tanah milik orang lain atau lahan sempit yang tak memungkinkan pembangunan fasilitas sanitasi permanen.

 

Tidak Punya Pilihan

Suryani (45), ibu rumah tangga yang menetap di bantaran Sungai Kedukan, mengaku tak memiliki WC di rumah. Ketika ditemui oleh Sumatera Ekspres, Kamis (7/8/2025), ia menjelaskan bahwa rumahnya dibangun seadanya di atas tanah milik orang lain.

"Kami tidak punya pilihan selain menggunakan WC Cemplung yang mengarah ke sungai. Untuk mandi dan mencuci juga kami manfaatkan air sungai," tuturnya.

Sementara untuk konsumsi, mereka membeli air isi ulang dan menggunakan air PDAM untuk memasak.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan