Forkomcab GMNI Sumsel Menolak Tegas Kongres Tanpa Semangat Persatuan
Forkomcab GMNI Sumsel Menolak Tegas Kongres Tanpa Semangat Persatuan-Foto: IST -
PALEMBANG, SUMATERAEKSPRES.ID – Forum Komunikasi Cabang (Forkomcab) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Sumatera Selatan menyuarakan sikap tegas menolak pelaksanaan kongres nasional yang tidak berlandaskan pada semangat persatuan dan rekonsiliasi.
Pernyataan ini disampaikan sebagai respons terhadap kondisi internal organisasi yang selama enam tahun terakhir terus dilanda dualisme kepemimpinan.
Koordinator Forkomcab GMNI Sumsel, Bung Samuel, menegaskan bahwa GMNI saat ini tengah berada dalam situasi kritis yang memerlukan pembaruan menyeluruh. Ia menilai konflik berkepanjangan antara dua kubu Dewan Pimpinan Pusat (DPP) justru semakin memperuncing perpecahan di tubuh organisasi.
“Organisasi ini terlalu lama didera perpecahan. Bukan bergerak ke arah rekonsiliasi, dua kepengurusan DPP—yakni Arjuna-Dendy dan Imanuel-Sujahri—malah saling menjatuhkan lewat jalur hukum. Ini bukan jalan persatuan, melainkan arena pertarungan yang mengorbankan kader di tingkat bawah,” ujar Samuel pada Sabtu malam (13/7/2025).
BACA JUGA:AI Semakin Canggih, Tapi 12 Jurusan Ini Tetap Tangguh di Masa Depan dan Takkan Tergantikan Teknologi
BACA JUGA:SE54K Guncang Palembang, 300 Peserta Gowes Lintas Daerah dan Negara Semarakkan Sepeda Lipat 54 KM
Desakan untuk Gerakan Kultural dari Akar Rumput
Forkomcab GMNI Sumsel menyerukan seluruh kader di tingkat Dewan Pimpinan Cabang (DPC) dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) agar mengambil inisiatif ideologis dan kultural sebagai upaya membangun kembali semangat kebersamaan.
“Sudah saatnya gerakan ini kembali ke akar. Kita harus bergerak dari bawah, dari basis kader, dengan semangat gotong royong. Konflik ini bukan semata masalah elit, melainkan persoalan fundamental tentang masa depan GMNI,” imbuh Samuel.
Ia juga menyoroti bahwa penyelamatan GMNI tidak bisa lagi disandarkan kepada dua kubu DPP yang tengah bertikai. Menurutnya, keduanya cenderung memanfaatkan hukum dan kekuasaan untuk saling menyingkirkan.
“Jika persatuan hanya menjadi narasi dari atas tapi faktanya saling mematikan lewat jalur hukum, maka itu bukan solusi. Kita butuh gerakan pemulihan dari bawah yang menyalakan kembali ruh organisasi,” tegasnya.
BACA JUGA:Ini Dia Daftar Harga Samsung Galaxy Z Fold 7 untuk Varian 256GB, 512GB, dan 1TB di Indonesia
Penolakan terhadap Kooptasi Politik Praktis
Lebih lanjut, Forkomcab GMNI Sumsel menyoroti adanya indikasi kuat bahwa konflik internal organisasi dimanfaatkan oleh elit-elit politik untuk mengkooptasi gerakan mahasiswa ini demi kepentingan pragmatis.
“Kami menolak seluruh upaya sterilisasi gerakan dan kooptasi GMNI ke dalam lingkaran kekuasaan. GMNI bukan alat politik rezim mana pun. Ia adalah garda intelektual progresif yang berpihak pada rakyat,” kata Samuel.
