Serang Waswas Gelombang Tongkang Batu Bara
SANDAR: Sejumlah speedboat sandar di bawah Jembatan Ampera, kemarin (6/5). Di tengah maraknya tongkang batu bara yang melintasi Sungai Musi, para serang banyak yang merasa khawatir dengan gelombang tongkang saat melintas di perairan. -foto: dudun/sumeks-
PALEMBANG, SUMATERAEKSPRES.ID - Aktivitas wara wiri tongkang batu bara berbadan besar yang melintasi Sungai Musi, Kota Palembang membuat resah serang speedboat dan ketek.
Deretan tongkang yang setiap harinya melintas mengangkut batu bara, tak hanya mendominasi jalur perairan sungai, juga membuat para serang takut mendekat lantaran memicu gelombang yang cukup besar.
Iklan Google/Link Sponsor
Udin, serang speedboat yang mangkal bawah Jembatan Ampera mengungkapkan keresahannya dengan aktivitas ponton batu bara ini. Menurutnya, setiap hari speedboat dan ketek harus menghadapi gelombang air yang ditimbulkan tongkang, belum lagi besarnya badan tongkang yang melintas dekat.
“Kadang gelombang yang ditimbulkan tak jarang membuat kami terombang-ambing di permukaan air, apalagi badannya tongkangnya begitu besar,” ujarnya, kemarin. Tak hanya speedboat terdampak, ia juga menyoroti nasib para serang ketek, perahu tradisional bermesin yang melaju jauh lebih pelan. Para pengemudi ketek ini merasa lebih rentan terkena dampak gelombang, bahkan merasa was-was acap kali berlintasan dengan tongkang.
BACA JUGA:Wabah Ngorok Serang Puluhan Kerbau, Picu Mati Mendadak, Terjadi di Kabupaten Lahat
BACA JUGA:Wabah Ngorok Serang Ternak Lahat, Puluhan Kerbau Tewas Mendadak di Hutan dan Ladang
“Tak hanya speedboat, para serang ketek juga takut bahkan lebih berbahaya. Kan ketek melaju pelan, ketika kena gelombang jadi terombang-ambing. Risiko lainnya tertabrak,” ungkapnya. Kondisi semrawut di Sungai Musi ini sudah berlangsung lama, para pelaku transportasi sungai mengaku semakin khawatir lantaran aktivitas tongkang semakin padat seiring meningkatnya permintaan batu bara dari wilayah hulu.
Beberapa pengemudi ketek bahkan memilih mengalah dan menepi setiap kali melihat tongkang besar melintas, karena tidak berani mengambil risiko. “Kadang kami pilih minggir dulu biar aman, imbasnya waktu tempuh jadi lebih lama,” keluh serang ketek lain, Idris.
Udin dan rekan-rekannya berharap ada campur tangan nyata pemerintah untuk mengatur lalu lintas sungai demi keselamatan bersama. Mereka meminta adanya jalur khusus atau pengaturan waktu agar kapal kecil tidak terus-menerus berhadapan dengan tongkang raksasa di jalur yang sama.
“Kami berharap ada solusi dari pemerintah terkait ini. Kita kan cari makan untuk anak-istri, mereka menunggu kami di rumah pulang dengan selamat. Bahaya rasanya kalau setiap hari seperti ini,” tandas Udin.
BACA JUGA:Bebaskan Palestina dari Serangan Zionis Israel, Aksi Jilid IV, Kumpulkan Donasi hingga Rp2,3 Miliar
BACA JUGA:Ulat Grayak Serang Tanaman Jagung di Lubuklinggau, Petani Diimbau Gunakan Pestisida Nabati
Sebelumnya, Wali Kota Palembang, Drs H Ratu Dewa MSi menjelaskan penerapan retribusi harus ada koordinasi lintas kementerian. Di antaranya Kementerian Perhubungan, Pariwisata, Lingkungan dan Kementerian PU. Tapi sejauh ini pengajuannya stagnan. “Materi yang ada dan klausul yang diajukan ke Pemprov Sumsel lebih dari 50 persennya ada perbaikan. Jadi kami kembali mengusulkan draft yang baru untuk diajukan kembali ke pemerintah pusat,” tegasnya.
Ia pun meminta update ke Dinas Perhubungan (Dishub) terkait regulasi dan aturan penerapan retribusi transportasi di perairan Sungai Musi, sehingga punya dasar pelaksanaan tugas di lapangan. “Perda retribusi angkutan sungai masih perbaikan karena masih perlu dilengkapi materi atau klausulnya. Setelah disetujui baru bisa kita terapkan," terangnya.
