Sumatera Ekspres | Baca Koran Sumeks Online | Koran Sumeks Hari ini | SUMATERAEKSPRES.ID - SUMATERAEKSPRES.ID Koran Sumeks Hari ini - Berita Terhangat - Berita Terbaru - Berita Online - Koran Sumatera Ekspres

https://sumateraekspres.bacakoran.co/

Mitsubishi baru

Dorong dengan Pengembangan Industri Hilir

-foto: ist-

SUMATERAEKSPRES.ID - UPAYA mengangkat nama kopi Sumsel sangat penting, mengingat provinsi ini memiliki produksi terbesar, namun sayang kopinya kurang terkenal. Salah satu kuncinya membangun industri hilir kopi karena saat ini jumlahnya belum banyak di Provinsi Sumsel. Rata-rata kopi petani dijual ke Lampung yang memiliki pabrik-pabrik kopi skala industri besar. 

“Kalaupun ada di Sumsel, kebanyakan masih skala kecil atau home industry sehingga perlu ada hilirisasi industri dengan menarik investor masuk Sumsel agar mau mendirikan pabrik kopi,” ujar Ketua Dewan Kopi Sumatera Selatan, Zain Ismed.

Karena, semakin banyak industri hilir semakin besar multiplier effect-nya bagi perekonomian Sumsel. “Sekarang dengan besarnya produksi kopi Sumsel, saya perkirakan uang beredar dari kopi saja mencapai Rp13-15 triliun. Jika industri hilir-nya bertumbuh, maka mungkin bisa menjadi 2-3 kali lipat,” terang Zain. 

Keberadaan industri strategis tak hanya meningkatkan produktivitas, juga memberi nilai tambah bagi masyarakat, menyerap tenaga kerja, pemasukan bagi pemda dari pajak dan lain sebagainya. “Kopi Sumsel memang sebagian besar dibawa keluar provinsi atau produk ekspor, tapi ada pula untuk konsumsi domestik (dalam Sumsel, red). Potensinya besar, konsumsi terus meningkat,” lanjutnya. 

Namun ada banyak kendala investor atau industri hilir mau mendirikan pabrik di Sumsel, terutama masalah keekonomian dan infrastruktur. “Di Lampung infrastrukturnya sudah lengkap. Ada pelabuhan laut yang memudahkan ekspor impor, mau menjangkau Pulau Jawa lebih dekat, tersedia jalan tol, dan lain sebagainnya,” bebernya.

 BACA JUGA:Forkopimda Empat Lawang Halal Bihalal dengan Gubernur dan Forkopimda Sumsel

BACA JUGA:Split Fiction Laris Manis! 2 Juta Kopi Terjual dalam Seminggu, Bukti Game Kooperatif Diminati

Kendati demikian, Zain meyakini kendala ini bisa diatasi jika Pemerintah punya komitmen kuat untuk mendorong industri besar mendirikan pabrik di Sumsel. “Bagaimana memfasilitasi investor bahwa mendirikan pabrik di Sumsel juga efisien, sehingga harus menyediakan infrastruktur penunjang misalnya pelabuhan laut (Tanjung Carat) untuk mempermudah ekspor, memperbaiki jalan-jalan produksi sentra pertanian kopi Sumsel ke Kota Palembang,” tegas Zain. 

Karena saat ini dari Semende ke Palembang butuh waktu 9 jam, lebih dekat dan mudah ke Lampung via jalan tol hanya 5 jam. “Pemerintah juga perlu memfasilitasi dan memberikan insentif atau keringanan pajak/retribusi bagi industri hilir yang mau mendirikan pabrik kopi,” tuturnya. 

Terakhir memperkuat kerja sama perdagangan ekspor impor komoditas dari Sumsel ke luar negeri, sebab akan sulit jika industri punya permintaan global tapi tak bisa terpenuhi karena tidak tersedia transportasi khusus ke sana. “Memang kalau ekspor itu paling gampang dari Jakarta atau Lampung, karena banyak tersedia angkutan (kapal) dan jalur perdagangan,” tuturnya. Kadang pelabuhan laut sudah ada, tapi tidak ada kapal ekspor impor ke pelabuhan luar. Ini akan jadi masalah juga. 

“Misal investor mau ekspor dari Pelabuhan Boom Baru Palembang ke Port Klang West, Malaysia. Sebenarnya dekat, tapi pas dicari kapalnya ternyata yang ada hanya kapal ke Port Klang North, tidak ada yang ke Port Klang West. Gagal juga ekspornya, makanya penjajakan kerjasama perdagangan ini harus menjadi perhatian bersama,” bebernya. Terkait Pergub Kopi Sumsel, Zain Ismed mengatakan peraturan tersebut berimplikasi baik, hanya saja sejauhmana implementasinya, ini harus ditindaklanjuti oleh OPD terkait ke lapangan. 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan