Dishut Sumsel Luncurkan SiAlam, Banyak Kontribusi Positif dan Harus Bijak dalam Mengelola Alam
PENGHARGAAN: Gubernur Sumsel, Herman Deru, meluncurkan Sistem Informasi Sumsel Akses Perhutanan Sosial untuk Masyarakat (SiAlam) dan menyerahkan penghargaan bagi Kelompok Tani Hutan (KTH) berprestasi di Ballroom Grand Atyasa, kemarin (9/12). -Foto: dila/sumeks-
PALEMBANG, SUMATERAEKSPRES.ID - Pentingnya mengedepankan sikap bijak dalam pengelolaan alam dan tidak semua yang salah harus ditolak, karena banyak kontribusi positif dari berbagai pihak karena alam dan sumber daya yang diciptakan Allah harus dikelola dengan baik, dengan komitmen yang nyata.
Pesan ini disampaikan Gubernur Sumsel, Dr H Herman Deru SH MM di acara peluncuran Sistem InformasiSumsel Akses Perhutanan Sosial untuk Masyarakat (SiAlam) dan pemberian penghargaan bagi Kelompok Tani Hutan (KTH) berprestasi di Ballroom Grand Atyasa, kemarin (9/12).
“Contohnya, Tukino dan teman-temannya bisa menjadi motivasi dan mentor untuk menjaga alam. Kita menjaga alam, dan alam menjaga kita,” imbuh Deru.
Deru menegaskan, penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi terhadap pengelolaan sumber daya alam yang cerdas, produktif, dan lestari.
“Sumsel terus menunjukkan kemajuan. Semua indikator ekonomi menunjukkan tren positif, termasuk inflasi dan pengelolaan potensi daerah yang lebih terkoordinasi,” sebutnya.
Kendati begitu, Deru menegaskan untuk aspek kehutanan, saat terjadi bencana, seringkali pihak yang disalahkan bukan hanya pemberi izin, tetapi juga penerima dan pemangku kepentingan lainnya.
BACA JUGA:Hadirkan Saksi Dari Dinas Kehutanan
“Tapi baiknya bagaimana kita harus mengelola hutan dengan cerdas, karena tanggung jawab kita adalah mewariskan alam ini kepada generasi berikut,” ajak suami Feby Deru ini disambut tepuk tangan para tamu dan undangan yang hadir.
Dia mencontohkan praktik pengelolaan hutan di negara maju, seperti China dan Amerika, yang mampu mengeksploitasi sekaligus menjaga ekosistem dengan baik sementara di Sumsel, reklamasi dan ekosistem hutan dan lahan pertambangan memerlukan perhatian jangka panjang.
“Ketika pertambangan terbuka dilakukan, maka ekosistem butuh bertahun-tahun agar pulih, termasuk pohon besar, rumput, dan habitat satwa. Perusahaan yang menjaga ekosistem mendapat apresiasi saya, misalnya perlindungan gajah di PALI, yang tetap bisa melintas tanpa diganggu,” kata dia.
Di kesempatan ini, Kepala Dinas Kehutanan (Kadishut) Sumsel, Koimudin, menyampaikan, kehadiran SiAlam menjadi langkah penting untuk meningkatkan transparansi, efektivitas pelayanan, serta memperkuat peran masyarakat dalam perhutanan sosial.
“SiAlam mempermudah masyarakat mengakses data, regulasi, dan pendampingan secara terintegrasi, sehingga mendukung peningkatan kesejahteraan sekaligus kelestarian hutan,” jelas Koimudin.
