MANUSIA ‘BY DISIGN’ UNTUK BERGERAK
Iwan Andhyantoro -FOTO: OZI/SUMEKS-
PALEMBANG, SUMATERAEKSPRES.ID- Sejatinya, tubuh manusia sebenarnya di disain oleh Sang Maha Pencipta untuk selalu bergerak, bukan “mager”. Namun, kemajuan teknologi seringkali menghadapkan manusia pada pilihan-pilihan yang lebih mudah, minim mengeluarkan energi, minim gerakan, dan aktifitas fisik lainnya.
“Terlebih perkembangan industri kuliner maju dengan sangat pesat menawarkan segala macam godaan yang “mengusik selera” calon customer yang senantiasa ingin terpuaskan, dan bisa dipenuhi dengan sangat mudah dan cepat dengan menggunakan aplikasi yang ada di smartphone, dan sekali lagi ..... sangat hemat gerak dan energi, cukup hanya menggerakkan jempol saja, dan ......, “bim salabim !!!!, tiba-tiba hidangan sudah ada didepan mata, dan tinggal santap, beres,” kata; Iwan Andhyantoro, SKM, M.Kes, Humas RS Ernaldi Bahar Prov. Sumsel.
Mwnurut pria yang juga akademisi ini, pada akhirnya permasalahan kesehehatan yang dipicu masalah kurang gerak dan kelebihan kalori. Ada anekdot mengatakan “ Dulu orang mati karena upaya mencari makan, dan kekurangan makan, sekarang orang mati karena kurang gerak dan kelebihan makan”, sesuatu yang memang menjadi fakta bahwa makin banyak penyakit degeneratif mematikan akibat gaya hidup tak sehat terkait kurang gerak dan cara makan yang salah.
“Dua hal ini ( kurang gerak dan pola makan yang tak sehat ) seolah-olah sudah menjadi suatu pasangan, dan memang terbukti menjadi presdiposing penyakit Jantung, stroke, diabetes, hipertensi, gagal ginjal, kerusakan hati, kanker, dan lainnya,” ujarnya.
BACA JUGA:Lestarikan Budaya, Gelar Lomba Olahraga Tradisional
BACA JUGA:Riset Ungkap, Cukup 15 Menit Olahraga Ringan Sehari, Risiko Penyakit Jantung Bisa Turun 30%
Penyakit-penyakit ini termasuk dalam "katastropik", yaitu penyakit yang memerlukan biaya pengobatan tinggi, menguras harta, kurun waktu pengobatan yang lama, bahkan seumur hidup, kehilangan produktifitas, yang berpotensi menyebabkan komplikasi serius, dan dapat mengancam jiwa, bahkan ada yang memaknainya sebagai penyakit yang memiskinkan (menyebabkan gejolak ekonomi ) bagi individu dan keluarga yang sangat signifikan jika tidak ada subsidi biaya kesehatan / jamkkesmas dari pemerintah.
Menurut dia, menjadi sebuah realita dan fakta sosial bahwa warga negara Indonesia, apalagi Generasi Z, atau yang sering disingkat Gen Z, adalah kelompok demografis yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012. Mereka adalah generasi yang tumbuh besar bersama internet dan teknologi digital, sehingga dijuluki "digital native", dimana situasi dan zamannya memang “membingkai” mereka dalam situasi banyak “mager” alias malas gerak/minim gerak. Sedangkan angka harapan hidup rata-rata penduduk Indonesia pada tahun 2024 adalah 72,39 tahun.
Walaupun ada variabel lain yang juga berpengaruh, tetapi setidaknya data yang ada bisa menjadi sebuah referensi penting yang bisa menjadi acuan yang mendukung pengaruh antara budaya bergerak aktif secara fisik dan angka harapan hidup di suatu negara. Beberapa negara di Asia, misalnya Jepang dimana wanita Jepang memiliki angka harapan hidup rata-rata tertinggi di dunia, yaitu 87,13 tahun pada tahun 2024. Angka harapan hidup pria Jepang adalah 81,09 tahun. Jepang, dikenal dengan kebiasaan aktif secara fisik, berjalan kaki dan bersepeda adalah aktivitas fisik yang umum dilakukan, baik untuk transportasi maupun sebagai bentuk olahraga ringan.
Negara-negara Eropa , terutama Skandinavia dan Swiss diketahui memiliki budaya aktifitas fisik yang kuat, dengan banyak orang yang terlibat dalam olahraga dan kegiatan luar ruangan. Negara Swiss mempunyai Angka harapan hidup cukup tinggi sekitar 84 tahun, di tahun 2024, negara-negara Skandinavia dengan usia 82 tahun. Belanda juga dikenal sebagai negara dengan aktifitas fisik warganya yang cukup tinggi memiliki angka harapan hidup yaitu 85,6, dan menduduki peringkat ke-9 dalam daftar negara dengan kualitas hidup terbaik di dunia pada tahun 2024.
“Saya tidak memilih kata olah raga, karena ada beberapa permainan yang dikatagorikan olah raga, tetapi ternyata tidak banyak melakukan aktifitas fisik, misalnya catur, bridge, dll. Dan saya lebih merasa cocok menggunakan frasa “gerak badan”, tuturnya. Karena ketika menggunakan istilah gerak badan, maka banyak aktifitas harian rutin yang dilakukan secara manual ( tanpa alat bantu modern) yang selama ini tidak dianggap olah raga tetapi mempunyai manfaat tak ubahnya berolah raga, yaitu mencuci pakaian (tanpa mesin cuci), menyapu, mengepel lantai, berkebun, berladang, bertani, merapikan rumah, berjalan kaki ke warung, berjalan kaki ke pasar, memilih jalan naik tangga daripada memakai lift atau escalator, berjalan kaki ke tempat ibadah, berjalan ke rumah tetangga, bersepeda menuju ke sekolah, tempat kerja, menggendong anak/cucu, dan aktifitas fisik lainnya.
