Kasus DBD di Palembang Naik Saat Kemarau, Sukarami Tertinggi
--
PALEMBANG, SUMATERAEKSPRES.ID - Penularan demam berdarah dengue (DBD) di musim kemarau harus menjadi perhatian karena ada kecendrungan potensi meningkat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Palembang, Yudi Setiawan mengatakan, suhu panas saat kemarau juga dapat membuat nyamuk lebih aktif dan sering menggigit.
BACA JUGA:Kasus DBD di Empat Lawang Capai 14, Dinkes Imbau Warga Fokus PSN
BACA JUGA:Waspada DBD! 11 Kasus Suspek di OKU Timur, Dinkes Gencar Fogging dan Bagikan Abate
"Karenanya DBD saat kemarau masih potensi meningkat," sampainya belum lama ini.
Maka dalam upaya menekan angka kasus DBD, metode yang umum dilakukan dengan 3M, yaitu Menguras, Menutup, dan Mengubur.
"Selain itu, beberapa upaya tambahan yang dapat dilakukan untuk memaksimalkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan mencegah DBD.
Yakni memasang kasa atau kelambu nyamuk, tidak menumpuk atau menggantung baju terlalu lama dan menggunakan lotion antinyamuk," jelasnya.
Sebab, berdasarkan catatan Dinkes Palembang per 24 Juli 2025, angka DBD mencapai 53 kasus baru sepanjang 2025.
BACA JUGA:Hasil Pencatatan Dinkes Mura Deteksi 28 Kasus DBD, Terjadi Peningkatan dari Juni
BACA JUGA:Waspadai Fase Kritis DBD
Sedangkan laporan kasus DBD pada Juni sempat menularkan virus terhadap 80 orang. Kemudian pada Mei lalu, angka DBD berjumlah 65 kasus dan April tahun ini menyentuh 95 kasus.
"Kasus DBD tertinggi ada di Kecamatan Sukarami sebanyak 66 kasus. Sedangkan berdasarkan usia, paling banyak umur 5-14 tahun berjumlah 290 kasus, 15-44 tahun 149 kasus, 1-4 tahun 79 kasus, 44 tahun ke atas 15 kasus, dan di bawah 1 tahun 4 kasus," pungkasnya. (tin/lia/)
