Sumatera Ekspres | Baca Koran Sumeks Online | Koran Sumeks Hari ini | SUMATERAEKSPRES.ID - SUMATERAEKSPRES.ID Koran Sumeks Hari ini - Berita Terhangat - Berita Terbaru - Berita Online - Koran Sumatera Ekspres

https://sumateraekspres.bacakoran.co/

Mitsubishi baru

Waspada Virus Nipah, Dokter Ingatkan Risiko Radang Otak hingga Kematian

Dr dr Harun Hudari, SpPD KPTI FINASIM-FOTO: IST-

PALEMBANG, SUMATERAEKSPRES.ID - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menerbitkan Surat Edaran (SE) tentang kewaspadaan terhadap penyakit Virus Nipah.

Menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Tropik Infeksi RSMH Palembang, Dr dr Harun Hudari, SpPD KPTI FINASIM, mengatakan Virus Nipah merupakan infeksi virus berbahaya yang bisa menyebabkan radang otak bahkan kematian.

BACA JUGA:Dinkes OKI Siaga Antisipasi Virus Influenza A, Siapkan Ruang Isolasi di RSUD Kayuagung

BACA JUGA:Sumsel Status Tertular PMK, Virus Bisa Terbawa Angin Hingga 10 Km, Ancam Hewan Ternak

“Penularan virus Nipah terjadi dari hewan ke manusia (zoonosis, red). Sampai saat ini belum diketahui pengobatan efektif untuk infeksi virus ini.

Karena itulah pemerintah mengeluarkan edaran terkait bahaya virus Nipah,” ujar dr Harun, Rabu (4/2).

Lebih lanjut dr Harun menjelaskan, Virus Nipah masuk dalam genus Henipavirus, sekelompok dengan virus Langya dan virus Hendra, yang juga menyerang hewan dan bisa menular ke manusia. Hewan yang menjadi pembawa pertama virus ini adalah kelelawar buah.

Lanjutnya, wabah virus Nipah pertama kali terjadi di peternakan babi di sebuah desa dekat Sungai Nipah, Malaysia.

“Virus Nipah termasuk infeksi zoonosis, yang artinya menular dari hewan ke manusia. Penularan ke manusia bisa terjadi jika seseorang mengonsumsi hewan ternak yang terinfeksi atau terpapar cairan tubuh, seperti darah dan kotoran dari hewan yang terinfeksi.

Selanjutnya, penularan antarmanusia bisa terjadi melalui kontak erat dengan cairan tubuh penderita, termasuk droplet, darah, dan urine,” urainya.

Lebih jauh dijelaskan, orang-orang yang termasuk dalam kelompok berisiko tinggi tertular virus Nipah, salah satunya mereka (manusia, red) yang mengonsumsi cairan nira mentah dan belum difermentasi, kemudian makanan atau buah yang terkontaminasi virus Nipah.

“Selain itu, orang yang baru saja bepergian ke daerah yang sedang mewabah virus Nipah,” ungkap dr Harun.

Lanjutnya, kemudian orang yang terpapar cairan tubuh dari hewan atau orang lain terinfeksi, termasuk droplet yang dikeluarkan saat batuk atau bersin, darah, kotoran, urine, ataupun air liur, dan orang yang melakukan kontak dekat dengan hewan atau orang lain yang terinfeksi virus Nipah, misalnya tenaga medis atau pekerja di pusat layanan kesehatan masyarakat.

Kata dr Harun, rentang waktu munculnya gejala setelah terpapar virus Nipah (masa inkubasi, red) sekitar 4–14 hari. Gejala awal infeksi virus Nipah bisa mirip dengan gejala flu biasa.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan