Tercatat 1.911 Kasus TB Positif di OKI, 64 Persen Sembuh
SKRINING: Dinkes OKI melakukan skrining pada keluarga penderita TBC untuk menuntaskan kasus ini.-Foto : Ist-
KAYUAGUNG, SUMATERAEKSPRES.ID-Sebanyak 1.911 kasus Tuberkulosis positif yang aktif dan dalam proses penyembuhan dan minimal pengobatan enam bulan. Hingga saat ini, Dinkes OKI mencatat sudah sembuh 64 persen.
Kepala Dinkes OKI, H Iwan Setiawan mengatakan, data tersebut sampai 24 November lalu, kemudian peningkatan skrining kasus Tuberkulosis di OKI harus dioptimalkan. "Melalui 33 puskesmas dan di rumah sakit dalam gerakan ini dicanangkan oleh Bupati OKI, H Muchendi Mahzareki. Program inovasi yang diberi nama Gema Bertasbih, yang digagas Dinkes OKI untuk percepatan penanggulangan TB Paru," terangnya kemarin.
Iklan Google/Link Sponsor
Bidang Yankes, P2P bersama puskesmas melakukan skrining sampai ke pesisir melalui program layanan kesehatan bergerak, untuk melakukan penjaringan kasus TB. Pihaknya bersama jajaran kesehatan melakukan penjaringan kasus TB yang dimotori dari Bidang P2P, sudah mempunyai program yang baik dibuktikan dengan peningkatan temuan kasus.
Jika semakin banyak temuan kasus berarti upaya penanggulangan kasus TB berjalan dengan baik. Tentunya upaya preventif dikedepankan. Sekarang ini, Dinkes bersama puskesmas melakukan kunjungan ke pasien TB
BACA JUGA:Puskesmas Mulai Terima Cek Kesehatan Gratis, Dari Pemeriksaan IVA hingga Tuberkulosis
BACA JUGA:Mengenal Penyakit Tuberkulosis Paru Gejala, Diagnosis, dan Penanganan
Ada lima upaya yang dilakukan memastikan setiap pasien mengonsumsi obat TB tidak terputus dan tersedia di setiap pasien, mengecek higienis sanitasi ke rumah di setiap penderita TB Paru. Melihat kondisi rumah, kelembaban, kebersihan sampah yang berpotensi media penularan dari TB Paru. Melakukan investigasi kontak dilakukan untuk upaya preventif pencegahan satu orang positif kasus TB investigasi sebanyak 10 orang ataupun kerabat dari penderita TB dilakukan investigasi, penyelidikan dan pengambilan sputum TB (pengambilan dahak) dan melakukan penyuluhan di rumah tangga maupun lingkungan sekitar, memastikan susu yang diberikan melalui puskesmas itu sampai kepada pasien dan diminum sesuai dengan kebutuhan selama enam bulan selama proses pengobatan.
Ia mengimbau seluruh pimpinan puskesmas untuk melakukan kunjungan ke rumah tiap pasien TB agar memotivasi pasien untuk patuh terhadap apa yang disarankan oleh petugas kesehatan, mengonsumsi obat, menjaga kesehatan lingkungan dan kesehatan diri.
